Sabtu, 22 Desember 2007

Sesama Rawan Gempa

Belum lama di kota Gisborne yang menghadap Samudra Pasifik (19 Desember 2007) terjadi gempa dengan kekuatan 6,8 skala Richter. Korban jiwa sejauh ini baru 1 orang akibat serangan jantung. Pusat kota Gisborne cukup parah, termasuk infrastruktur seperti sarana listrik. NZ dan Indonesia termasuk wilayah rawan gempa. Konon dalam setahun di NZ terjadi lebih dari 10 ribu getaran tektonik, tetapi yang dirasakan manusia sekitar 100 kali saja, itupun mayoritas tidak memberi efek yang merusak karena begitu kecilnya.

Ancaman tsunami bukannya tidak ada, bahkan kalau gempa terjadi di wilayah pantai benua Amerika, efeknya bisa sampai ke NZ berupa gelombang tsunami (ini seperti tsunami Aceh di 2004 yang efeknya sampai ke Somalia di Afrika). Untuk itu alat pendeteksi tsunami disebar di laut sekitar NZ.

Inilah nasib sesama negara kepulauan yang rawan gempa.

Selasa, 11 Desember 2007

Indonesia Lebih OK Soal CO2?

Membaca Kompas pagi ini saya terkejut, ternyata produksi CO2 alias karbondioksida (bahan penyumbang efek rumah kaca) NZ adalah 9 lebih ton per kapita, jauh di atas Indonesia yg cuma 1,4 ton per kapita. Berita ini seiring dg berlangsungnya konfrensi Perubahan Iklim PBB, Desember 2007 di Nusa Dua, Bali.

Benar, Jakarta spt Mexico City dan Bangkok setidaknya masuk 10 kota terpolusi di dunia, tapi ternyata secara keseluruhan Indonesia masih rendah dalam memproduksi CO2 per kapitanya. Meskipun secara total Indonesia jauh di atas NZ dalam memproduksi CO2, yaitu 220 juta jiwa dikalikan 1,4 juta ton sama dengan 302 juta ton CO2 / tahun, sedangkan NZ memproduksi 4 juta jiwa dikalikan 9 juta ton sama dengan 36 juta ton CO2 / tahun.

Buat kita, di manapun, ayo turunkan CO2 dengan berbagai cara, supaya anak cucu kita terselamatkan.

Minggu, 09 Desember 2007

Anak Bekerja Jangan Dilarang?

Di harian Kompas hari ini, ada berita tentang upaya penyelamatan pekerja anak-anak yang dianggap masih dibawah umur. Setelah saya baca sampai habis, ternyata anak2 itu berusia 15an tahun yang tugasnya membersihkan rumah sarang burung walet, dianggap bekerja dibawah tekanan/paksaan. Lucunya, anak2 itu merasa tidak merasa ditekan atau dipaksa. Tetapi pihak aparat berkeras hendak "membebaskan" mereka dari tempat kerjanya.

Di NZ, anak tidak dilarang kerja hanya saja harus sesuai aturan (terutama porsi jam kerja yang dibatasi). Anak-anak kecil di bawah 15 tahun boleh mulai kerja sebagai loper koran atau selebaran2 promosi yang dimasukkan ke kotak pos yang ada di rumah2 (semua rumah punya kotak pos). Bayarannya tidak besar, sebulan paling2 mendapatkan $50 s/d $75. Lumayan buat uang saku mereka.

Usia 15 thn mereka sudah boleh kerja lebih intens, biarpun dalam seminggu dibatasi jumlah jam kerjanya supaya tidak mengganggu pelajaran. Sering kita jumpai anak2 remaja ini bekerja di supermarket, restoran, toko-toko dan masih banyak lagi. Motivasinya macam2, ada yang ingin membeli sesuatu sehingga perlu uang tambahan, ada yang ingin supaya uang sakunya ada extra lebih, dst. Para pelajar 'overseas' pun boleh bekerja dengan maksimal jam kerja tertentu dalam seminggu, lumayan kan bisa nambahin uang saku kiriman ortu dari tanah air.

Ada kenalan orang Indonesia pernah cerita, ketika masih mengoperasikan sebuah coffee shop ada anak remaja melamar kerja di coffee shop nya padahal ortunya orang kaya. Si Ortu bilang kepada kenalan ini, bahwa ia sengaja suruh si anak kerja biar tau susahnya cari uang.

Nah, jadi dalam skala dan takaran tertentu, anak bekerja bisa ada manfaatnya, terutama untuk pembelajaran lewat pengalaman. Daripada kluyuran di Mall nggak jelas?

Kamis, 06 Desember 2007

Pertama Kali Datang untuk Sekolah

Baru-baru ini kenalan saya menyampaikan bahwa putrinya sudah diterima kuliah di Auckland University (AU) dan akan mulai kuliah bulan Februari 2008 mendatang. Sang putri ini adalah anaknya semata wayang. "Yang pasti ibunya akan menemani dia dulu sambil mencari akomodasi di sana." katanya.

Situasi seperti kenalan saya di atas memang banyak dialami orang tua yang lain. Mereka tentu ingin yang layak buat anaknya. Makanya mereka mau ikut mengantar bahkan mungkin ikut memilihkan akomodasi buat anaknya. Lalu saran saya kepada kenalan tadi adalah, datanglah ke Auckland 2 minggu sebelum kuliah dimulai. Karena saya pikir 2 minggu cukup untuk mencari akomodasi yang diinginkan.

Tinggal soal pilihan, kalau mau dekat kampus biar hemat transport (bisa jalan kaki) tersedia banyak apartemen sekitar kampus. Sukur dapat yang studio bisa sendirian, tapi kalau bukan studio berarti akan share dengan mahasiswa/i lain (kecuali orang tuanya membeli 1 unit apartemen, he..he..he). Pilihan lain kontrak rumah dengan beberapa mahasiswa/i lainnya.

Dua pilihan di atas memang masih sedikit memberi rasa kuatir orang tua, karena berarti kita melepas anak kita tanpa pengawasan. Bagi mahasiswa/i baru, apalagi perempuan, banyak orang tua yang menginginkan adanya pengawasan. Nah, kalau kondisi seperti itu yang diinginkan, maka home stay bisa jadi pilihan. Orang tua bisa "menitipkan" anaknya kepada sebuah keluarga.

Atau ada alternatif lain, anak kita di "home stay" kan untuk sementara waktu sambil mencari akomodasi yang benar-benar cocok. Kalau perlu minta bantuan induk semang untuk mengantar anak kita mencari tempat akomodasi yang diinginkan. Beberapa keluarga Indonesia rasanya siap membantu untuk hal seperti ini. Kalau anak itu akhirnya malah merasa sudah cocok tinggal di keluarga Indonesia, ya sudah, tak perlu repot-repot mencari akomodasi lagi. Orang tuanya pun mungkin bisa lebih tenang karena bisa menitipkan anaknya di keluarga Indonesia, yang setidaknya menyediakan nasi sebagai makanan pokoknya, he..he..he.

Rabu, 05 Desember 2007

Arisan

Ada dua cara untuk menjadi Permanent Residence (PR) di NZ. Satu melalui general skill dan ke dua lewat jalur investasi. Cara pertama syaratnya semakin diperketat, cara ke dua pun sebetulnya sama juga yaitu dalam 3 tahun menginvestasikan minimal NZ$ 2 juta (+/- Rp 14 milyar), misalnya dalam bentuk deposito atau property yang dikomersialkan (bukan untuk dihuni/dipakai sendiri). Tiga tahun yang lalu nilai investasinya masih NZ$ 1 juta untuk 2 tahun. Namun, ini syaratnya lagi, applicant harus dapat membuktikan dana investasinya itu bukan dalam rangka pencucian uang (money laundring).

Konon menurut cerita, sebagian warga dari RRC melakukan arisan untuk mendapatkan PR di NZ. Diikuti oleh beberapa keluarga (katakan 5 keluarga) yang menghimpun dana sebesar NZ$ 2 juta untuk diinvestasikan di NZ. Setelah keluarga pertama tinggal 3 tahun dan diterima syarat PR nya, di tahun ke empat peserta ke dua berangkat setelah si NZ$ 2 juta dikirimkan ke peserta ke dua tsb. Begitu seterusnya. Maka, dalam 15 tahun 5 keluarga peserta arisan (kalau lancar) bisa berkumpul bersama di NZ.

Hmm, terpikir arisan model baru di Jakarta?


Selasa, 04 Desember 2007

Pasar Minggu

Salah satu daya tarik bagi yang suka belanja adalah mendatangi pasar minggu (Sunday Market), yaitu pasar kaget yang hanya dibuka hari Minggu. Biasanya mengambil tempat di lahan terbuka seperti tempat parkir yang luas. Bila Anda berkesempatan hari Minggu berada di Auckland, jangan lupa untuk datang ke Sunday Market ini, ada yang di Takapuna dan ada juga di daerah Avondale. Yang dijual macam-macam, mulai dari sayur dan buah segar, makanan, daging, baju, aksesori, barang antik, alat pertukangan, tanaman pot, dll. Konon dijual dengan harga miring.

Untuk bisa berjualan kita harus mendaftarkan diri ke kantor kotapraja setempat. Atau, go show saja, tapi dengan resiko kehabisan lahan. Pasca bencana tsunami Aceh, kami sempat berjualan di Takapuna berupa kaos bertema tsunami Aceh yang hasil penjualannya untuk disumbangkan ke Aceh. Kami mengikuti prosedur dengan cara go show saja, sehingga dari jam 5 pagi sudah harus mengantri di depan pintu lahan parkir. Caranya begitu tertib jadi kita tidak perlu berebut lahan. Kalau kehabisan lahan, ya sudah, terpaksa berjualan di luar areal utama, alias cukup di pinggir jalan. Sebelum jam 12 siang, kita wajib meninggalkan lokasi dalam keadaan bersih.

Di Jakarta, ada yang namanya Pasar Sogo Jongkok yang buka hari MInggu (apakah sekarang masih ada?). Juga di sekitar Stadion Senayan setiap hari Minggu ada pasar dadakan untuk menjaring mereka yang berlari pagi di sana.


Minggu, 02 Desember 2007

Lokasi Film

Ahir-ahir ini NZ tambah populer karena berturut-turut jadi tempat shooting film-film dunia, seperti: Lord of The Rings, The Last Samurai dan Kingkong. Film The Last Samurai yg dibintangi Tom Cruise banyak mengambil lokasi di kaki Gunung Taranaki yang - katanya - mirip dengan Gunung Fuji. Malah pada saat shooting, Perdana Mentri Helen Clark sempat menengok dan berbincang dengan aktor ganteng itu.

Lalu, film Kingkong sempat mengambil lokasi di ibu kota NZ, Wellington. Sedangkan film Lord of The Rings mengambil lokasi sebagian di North Island dan South Island. Dua film terakhir ini disutradarai oleh Peter Jackson yang asli NZ. Untuk film yang memerlukan panorama alam yang masih asli, NZ memang cocok, sebab dengan negara sebesar (kurang lebih) Jepang, penduduknya cuma 4 juta. Bisa dimaklumi banyak sudut-sudut lansekap yang jarang disentuh manusia. Beberapa bekas tempat shooting itu sekarang dijadikan obyek wisata, misalnya perkampungan Hobit yang serba mini.

Film Indonesia yang banyak mengexplor panorama alam yang saya ingat adalah fim Denias, yang cukup sukses dan bahkan menang di salah satu festival film. Tapi sayang, film-film kita dewasa ini masih didominasi percintaan remaja dan dunia penampakan. Sehingga panorama alam Indonesia tak banyak ter expose. (Keterangan foto: salah satu lokasi film Lord of The Rings, foto - www.trilogytrail.com))

Sabtu, 01 Desember 2007

"Berburu" Ikan Paus

Di NZ obyek wisata alam benar-benar dilestarikan tanpa harus mengusik keaslian yang ada. Salah satu obyek menarik adalah melihat ikan paus sarapan pagi di perairan Kaikoura (South Island). Kapal pemberangkatan paling awal adalah jam 7 pagi, meskipun saat itu winter, rombongan pagi itu tetap padat (sekitar 50 orang).

Dengan kapal jenis katamaran berkecepatan tinggi, kita diajak keliling mengejar ikan paus yang sedang sarapan. Sang kapten tanpa putus asa mengejar dengan alat sonar, kira-kira di mana keberadaan ikan paus tersebut. Sampai akhirnya setelah 30 menit berlayar kesana kemari, kita semua dibuat takjub, karena kapal bisa berhenti begitu dekat dengan ikan paus yang lahap menyantap plankton, lalu membuat gerakan untuk masuk lagi ke dalam laut dengan ekornya masuk paling terakhir (gerakan khas ikan paus yang sering diambil sebagai obyek foto).

Tidak semua sensasi mononton ikan paus dirasakan oleh penumpang, karena sebagian mereka sedang sibuk menanggulangi mabuk laut dengan kantong plastik menempel di mulut masing-masing (termasuk Dangbayan dan istri, he..he) -
(Keterangan foto: buntut ikan paus terlambat dipotret)

Nelson - Blenheim


Dalam suatu kesempatan di 2006 kami sempat berkunjung ke Nelson dan Blenheim di bagian utara South Island. Dari Auckland naik pesawat domestik sekitar 1 jam ke Nelson. Nelson adalah kota yang paling banyak disinari oleh matahari dalam setahun dibanding kota-kota yang lain, dan pernah menjadi kota dengan pertumbuhan nilai property yang tertinggi. Selain itu, kota kecil ini juga banyak diramaikan oleh para seniman, baik itu pematung atau pelukis, sehingga cukup banyak galeri seni yang bisa dikunjungi. Daya tarik lain, bersama kota Blenheim (sekitar 1 jam dar Nelson ke arah timur), merupakan salah satu pusat perkebunan anggur dan sekaligus industri pembuatan wine terbesar di NZ.

Kalau kita datang dengan kapal ferry dari Wellington, kita akan berlabuh di Picton yang terletak sebelah utara Blenheim (kurang dari sejam). Kawasan yang dijuluki 'the sunniest place in NZ' ini rupanya sangat cocok untuk tumbuhnya tanaman anggur. Industri wine di NZ sangat maju, dengan teknologi yang dikembangkan di NZ, kini mereka sanggup memproduksi wine dalam skala industri besar. Untuk kebutuhan tontonan turis, biasanya mereka tetap mempertahankan sebagian cara produksinya dengan gaya tradisional yang diwariskan oleh Perancis. Namun selebihnya, untuk konsumsi ekspor, mereka menggenjot produksi minuman anggur dengan teknologi canggih.

Percaya atau tidak, ada juga tenaga kerja Indonesia yang bekerja di perkebunan-perkebunan anggur di sini. Untuk bekerja sekitar 3 bulan saja, seorang pekerja bisa membawa pulang bersih minimal sebesar Rp 15 juta (setelah dikurangi biaya hidup 3 bulan, tiket pesawat dan membeli oleh-oleh). Pekerjaannya adalah sebagai pemetik buah anggur yang tidak memerlukan keterampilan khusus, sehingga pria dan wanita bisa melakukannya. Hasil upah sebesar itu tentu masih lebih baik dibanding bekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia.

Sayang, belum banyak dilirik oleh pengerah tenaga kerja kita, padahal setiap tahun kebutuhan tenaga kerja perkebunan di NZ cukup besar.
(Keterangan foto: winter di perkebunan anggur, Blenheim)


Harga Mobil Lebih Murah

Mobil bekas yang diimpor dari Jepang banyak lalu lalang di NZ. Karena tidak ada pajak barang mewah seperti di Indonesia, sudah tentu harga jualnya jauh lebih murah dibanding harga di tanah air. Apalagi dengan pembelian lewat lelang kita bisa beruntung mendapatkannya lebih murah lagi. Untuk orang awam yang kurang paham soal baik buruknya kondisi mobil bekas, mereka bisa minta jasa pengecekan mobil (car inspection) yang sangat profesional dan bisa dipercaya. Sehingga calon pembeli awam bisa memilih mobil bekas yang benar-benar baik kondisinya.

Baru-baru ini Vikra, anak kami, dengan uang tabungan dan pinjaman ke orang tuanya membeli mobil bekas berupa sedan Toyota Corina tahun 1997, 2000cc, seharga NZ$ 6000 (saat ini 1 NZ$ = Rp 7000). Kondisinya masih bagus. Kami sendiri dulu menggunakan Toyota Lucida, 8 seater, 2000cc bermesin diesel., thn 1996, seharga NZ$ 7000.

Tapi memang yang mahal adalah bensinnya. Harga bisa 2,5 kali dari harga di tanah air. Memiliki mobil di Auckland memang vital kalau aktifitas kita memerlukan bepergian jauh dari rumah, karena kendaraan umum hanya ada dua, bus dan taxi. Ada juga kereta api tapi jalurnya kurang luas. Bus hanya melayani jalan-jalan utama, sehingga kita harus berjalan lumayan jauh untuk sampai tujuan. Belum lagi kontur tanah yang naik turun cukup menantang betis kita (buat yang mau menurunkan berat badan sih cocok ya). (Keterangan foto: Toyota Lucida)

Jumat, 30 November 2007

Berapa Biaya Sekolah di NZ?

Bagi overseas student, biaya sekolah dikenakan secara penuh. Sedangkan bagi warga setempat atau pemegang status PR biayanya gratis untuk SD - SMA, sedangkan di universitas mendapatkan harga 1/3 nya (semua untuk public school). Biaya sekolah bagi overseas student (SD-SMA) sekitar NZ$ 15 ribu per tahun (1 NZ$ = Rp 6000 - 7000). Sedangkan untuk universitas bervariasi tergantung fakultasnya, yaitu antara NZ$ 15 ribu s/d 20 ribu per tahun.

Lalu untuk biaya hidup di sana, misalnya untuk home stay dengan 2 kali makan (pagi dan malam, krn siang asumsinya makan di sekolah, jam sekolah jam 8.45 s/d 15.30) sekitar NZ$ 200 /minggu atau NZ$ 800/bulan. Untuk transport (kalau diperlukan, tapi kalau home stay nya dekat sekolah bisa jalan kaki) sebulan sekitar NZ$ 200. Untuk uang jajan (termasuk makan siang di sekolah) sekitar NZ$ 300. Jadi total kebutuhan minimun utk hidup di sana NZ$ 1300.

Nah, ringkasnya, biaya sekolah SD - SMA per bulannya sekitar NZ$ 2550, kalau kuliah sekitar NZ$ 3000 (ini semua cuma perkiraan untuk sekolah dengan biaya hidup yang pas-pas saja). Tentu akan lebih bila uang saku ditambah atau anak kita dibelikan mobil (ada uang bensin dan perawatan). Kalau kita ambil kurs yg 1 NZ$ = Rp 7000 saja, berarti biaya anak sekolah perbulan bisa dikatakan antara Rp 15 - 21 juta / bulan atau kalau agak dimanja sedikit bisa Rp 17,5 - 23,5 juta per bulan (uang sekolah dan biaya hidup).

Berapa biaya sekolah dan hidup kalau menyekolahkan anak kita seperti ke Global Jaya, High Scope, British School, German School, UPH, Trisakti, UI, Binus, dll? (Keterangan foto: Hakim dan teman sekolahnya)

Selasa, 27 November 2007

Salah Satu Tempat Teraman di Dunia

New Zealand (NZ) dikenal sejak lama sebagai salah satu tempat yang teraman di dunia, dari sisi tingkat kriminalitas. Anak-anak remaja kemana-mana banyak menggunakan kendaraan umum seperti bus. Anak kami yang tertua memutuskan untuk sekolah di sana diusianya yang baru 14 tahun. Sebagai orangtua tentu awalnya was-was juga. Tapi dia mencoba meyakinkan kami bahwa dia bisa hidup mandiri tanpa orangtuanya, malah dia bilang: "Kalau aku sekolah di Jakarta, bapak - ibu pasti nggak ngijinin aku pergi naik bus kan? Di sini aku ngerasa 'safe' pergi kemana-mana sendirian ... Lagipula kalau di Jakarta aku apa-apa dibantuin si mbak, tapi kalau di sini mau nggak mau aku harus bisa sendiri ..." Waduh, kok tiba-tiba anak "bayi" kami ini serasa sudah dewasa sekali (kalau dalam bahasa Sunda "Kokolot begog"). Maka, dengan ikhlas kami izinkan dia buat sekolah di NZ ketika masih di high school. Kami sendiri, orang tua dan satu orang adiknya kembali ke Jakarta.

Tapi bukan berarti NZ benar-benar bersih dari kriminalitas. Tetap ada gank di beberapa tempat atau wilayah tertentu. Tetap ada berita kehilangan mobil, penculikan atau penipuan dan pencurian. Barangkali secara statistik jumlahnya sangat kecil sekali. Mungkin karena sistem kesejahteraan sosial mereka cukup ok, yaitu bila seseorang menganggur bisa mendapatkan tunjangan sosial yang dibayar mingguan yang cukup untuk mengontrak kamar dan makan. Kalau dia berkeluarga dan punya anak, maka tunjangan menjadi lebih besar lagi sehingga cukup untuk membayar kontrakan rumah. Dengan demikian, motif pencurian biasanya bukan karena alasan lapar.

Yang disayangkan lagi, dengan dibukanya keran imigran dari Asia, tidak sedikit pelaku kriminalitas itu adalah orang-orang Asia. Ketika kami tinggal di sana 2004 - 2005 (16 bulan), terjadi kasus penculikan dan kasus pembunuhan yang dilakukan oleh imigran dari China daratan. Beritanya menggemparkan sehingga menjadi headline di koran-koran utama. (Keterangan foto: Hakim, pose didepan rumah dan bersama tetangga: Ellaine dan Suzane)

Senin, 12 November 2007

Lebih Kenyang dan Hemat

Kalau kita sekeluarga (asumsinya dengan 2 anak) sewa mobil untuk jelajah NZ, tentu kita sudah buat rencana perjalanan di kota apa saja akan bermalam, dan kalau perlu kita sudah memesan motelnya lewat internet. Jangan lupa membawa rice cooker (berasnya mudah didapat di banyak supermarket). Di motel bisanya ada pantry sehingga kita bisa buat nasi, tinggal lauknya kita beli di supermarket yang bisa dimasak atau dipanaskan dengan microwave (pastikan memesan motel yg ada fasilitas microwave nya di kamar). Selain lebih kenyang, juga lebih murah dibanding makan di restaurant. Bagi muslim yang peduli dengan makanan halal, bisa mencari fish and chips berikut salad nya. Tapi chips nya kita ganti dengan nasi yang dimasak sendiri. Lebih sip lagi kalau bawa kursi lipat dan peralatan piknik lainnya, sehingga kita bisa pilih tempat strategis buat menyantap makanan bersama keluarga sambil menatap pemandangan indah. Kalau kita kenal dengan teman-teman Indonesia, mereka bisa membantu meminjamkan peralatan tadi. O ya, kalau camper van yang anda sewa tentu lebih mudah dalam urusan menyiapkan makanan ini. (Keterangan foto: jalan-jalan dengan kawan-kawan ke Coromandel)

Liburan Dapat Uang?

Siapa yang tak mau? Di NZ banyak turis backpacker yang melancong sekalian bekerja di perkebunan. Jadi yang penting buat backpackers ini gimana caranya bisa mendarat di NZ dengan visa turis. Sehari dua hari browsing di internet buat ngelamar kerja diperkebunan. Begitu ada tawaran, mereka tinggal ke imigrasi buat ganti visa turisnya menjadi visa kerja dan berangkatlah kemudian ke perkebunan (cukup jauh dari Auckland). Boleh pilih, ada yang ke perkebunan anggur, kiwi, apel, dll. Biasanya jadi pemetik buah, sehingga tidak dibutuhkan keterampilan khusus dan bisa dikerjakan oleh perempuan juga. Bayarannya lumayan lah, antara 10 - 12,5 dollar per jam gross. Sehari bisa kerja 10 jam. Biaya kamar per minggu 90 - 100 dollar. Biaya makanan seminggu 100- 150 dollar (masak sendiri). Kalau bisa kerja sampai 3 bulan saja, lumayan banget buat ongkos jelajah NZ. Backpackers dari Eropa banyak melakukan cara ini buat hemat ongkos jalan-jalan di NZ. Anda ingin mencoba? (Keterangan foto: Vikra dan Ramiz di Sky Tower Auckland)

Minggu, 11 November 2007

Mereka Kompak Euy

Sebagai salah satu negara yang punya sistem pendidikan terbaik, tak heran kalau banyak pelajar dari luar yang sekolah di NZ. Dari Asia, terbanyak orang China (mainland) dan Korsel. Mungkin karena mereka juga anggap NZ sebagai salah satu negara yang teraman di dunia, selain bonus lainnya berupa pemandangan alam yang begitu indah.

Masalah utama buat pelajar asing tentunya soal bahasa Inggris. Salah satu strategi mengatasi soal bahasa adalah, anak-anak itu mulai bersekolah di NZ sejak SMA. Dengan cara itu, saat kuliah nanti, bahasa Inggrisnya benar-benar sudah memadai untuk menggunakan bahasa Inggris akademis (bukan yang pasaran).

Banyak pelajar China atau Korea yang sekolah tanpa orang tuanya di NZ. Padahal namanya orang tua, siapa sih yang nggak was-was mengirim anak remajanya ke luar negeri? Selidik punya selidik, oh ternyata mereka banyak memanfaatkan kenalan atau famili yang tinggal di NZ sebagai tempat tumpangan anaknya ('home stay'). Luarrr biasa semangat mereka buat maju. Kayaknya famili/kenalan yang dititipi sadar, dengan cara ini mereka masih bisa berperan buat negaranya, yaitu berharap setelah lulus di NZ si anak akan kembali ke kampung halaman untuk menyumbangkan pikiran dan tenaganya.

Sedangkan si orang tua, tentu lebih merasa tenang karena anaknya ada yang mengawasi di masa remaja yang rawan. Saat masuk kuliah biasanya anak-anak ini akan memilih, tetap tinggal dgn famili atau kenalan ortunya atau pindah ke apartemen dekat kampus. (Keterangan foto: halaman Takapuna Primary School, Auckland)

Sabtu, 10 November 2007

Banana Complex

He..he, biarpun NZ tidak sepopuler US atau Australia, ternyata lumayan juga jumlah orang Indonesia yang menetap di NZ. Minimal 2000 orang, campuran pelajar dan yang menjadi penduduk tetap. Terbanyak ada di Auckland, sebagai kota terbesar dengan populasi 1 juta jiwa. Ada istilah 'banana complex' buat anak Indonesia yang sudah lama tinggal di negeri barat pada umumnya, yaitu 'attitude' seperti orang barat tapi kulit tetap berwarna. Meskipun demikian, beberapa anak Indonesia yang sudah kesulitan bicara bahasa Indonesia, masih memiliki cara lain untuk mencintai negerinya. Salah satunya dengan mempelajari tari-tarian khas Indonesia. Bahkan, kegiatan ini sudah dipertontonkan ke masyarakat NZ dalam beberapa kali kesempatan. Komunikasi pun terjalin lewat kesenian. Selama kami tinggal di NZ, setidaknya melalui tarian sudah berkenalan dengan komunitas Asia timur lainnya, juga Denmark, Syria, Israel, Belanda, India, dll. Biarlah anak-anak itu menjadi warga global saja, toh berkarya bisa di mana-mana. Contohlah bangsa perantau seperti China dan India. Setelah jaringan perantau global mereka kuat, kemudian beramai-ramai mereka membangun negerinya. (Keterangan foto: anak Indonesia menari di depan komunitas Maori)

Jelajah NZ

Berapa lama waktu ideal buat berwisata ke NZ? Kalau paket-paket yang dijual banyak travel yang diiklankan di koran-koran Indonesia ada yang 5 hari sampai 12 hari. Yang waktunya pendek biasanya dikombinasi dengan wisata ke Australia. Bagi kami yang kebetulan pernah menjelajahi hingga ujung South Island, rasanya 12 hari tetaplah kurang.

Saran kami, pilihlah setidaknya 14 hari di musim panas (Desember - Maret). Sewa mobil atau bisa juga camper van. Zzzziiiing, melajulah dan nimati jalan-jalan yang nyaman. Nggak perlu takut nyasar, nggak perlu takut kemalaman di jalan. Di pelosok-pelosok tersedia yang namanya motel dan B&B (Bed & Breakfast) dengan tarif standar. Pemandangan? Rasakan saja langsung, kombinasi gunung, danau, laut dan sungai sangat luar biasa. Bila memilih datang di musim dingin (Juni - Agustus), bisa langsung saja memilih kota wisata internasional Queenstown dan sekitarnya (di South Island) selama 5 - 7 hari, di mana fasilitas ski tersedia di mana-mana dengan barisan gunung tertutup salju mengelilingi Queenstown.

Bila Anda bisa mengumpulkan satu grup untuk berlibur ke NZ (minimal 15 orang), kita bisa meminta bantuan teman-teman Indonesia di NZ untuk mengatur cara berlibur ekonomis. Malah bila perlu, selama di NZ ditemani oleh teman Indonesia di sana sebagai guide. (Keterangan foto: Vikra dan Ramiz main ski di Mt. Ruapehu, North Island)




Ke Bali Ku Kan Kembali

Suatu kali di 2004 kami berbincang dengan orang Auckland, kebetulan kami adalah tetangga baru mereka. Pasangan sekitar usia 40an tahun ini mengaku kenal Indonesia karena sudah beberapa kali pergi ke Bali dengan anak-anaknya. Ya, Bali merupakan salah satu destinasi liburan favorit orang kiwi yang jumlahnya sekitar 4 juta jiwa. Dengan paket wisata dibawah NZ$ 1500 mereka sudah bisa berlibur 4 - 5 hari di Bali. Tetangga kami bilang, 1 dari 3 orang NZ pasti sudah pernah ke Bali. Tapi sejak 2006 Garuda tak lagi terbang ke Auckland, tentu terjadi penurunan kunjungan wisatawan NZ ke Bali, karena airline lain memberi bandrol tiket lebih mahal. Ayo Garuda, banyak orang kiwi yang sudah kangen Bali nih.

Out of Top of Mind


Dari sepuluh orang yang saya jumpai di Indonesia, paling hanya satu atau dua orang yang tau NZ. Selebihnya sering mengira NZ itu ada di Australia. Kaciaaaan deh NZ. Buat saya, NZ sudah saya kenal sejak masih di SMA (78 - 81), karena sebagai pelahap berita saya membaca bahwa NZ salah satu negara yang paling gigih menentang percobaan bom nuklir Prancis di Atol Maurora. Aktivis lingkungan seperti Green Peace cukup banyak pengikutnya di NZ. Tapi Prancis tetap tega meledakkan kapal Green Peace ketika sedang merapat di pelabuhan Auckland (agen intel yang meledakkan tertangkap dan dihukum di NZ). Nggak heran, karena banyak 'enviromintalist', NZ sangat menjaga negerinya tetap bersahabat dengan lingkungan. Kalau Australia punya PLT Nuklir, NZ menolaknya mentah-mentah. Buat mereka lebih baik membangun PLT Angin yang bersahabat.

Sebagai tempat kunjungan wisata atau studi pun NZ masih kalah populer. Padahal mutu sistem pendidikannya salah satu yang terbaik di dunia (ini kata Doktor Komarudin Hidayat). Orang-orang Eropa, Jepang dan US menempatkan NZ sebagai tempat liburan favorit. Bila tujuan berlibur Anda cuma mau belanja seperti ke Hongkong, Milan atau Paris, NZ bukan tempat yang tepat. NZ cocok buat keluarga yang suka petualangan, senang dengan pemandangan indah dan mau menyetir sendiri mobil (sama-sama stir kanan seperti di Indonesia). Anda tertarik? (Keterangan foto: menanti pelompat bungy di Rotorua)

Ditinggal Garuda

Teman-teman yang tinggal di NZ sedih karena sejak 2006 Garuda Indonesia sudah tidak lagi menyinggahi Auckland. Biasanya ada penerbangan 2 kali seminggu (Sabtu dan Rabu) dari Jakarta ke Auckland via Denpasar dan Brisbane. Lama penerbangan plus transit sekitar 12 jam. Yang nyaman buat teman-teman Indonesia dengan terbang bersama Garuda adalah tentu saja soal kemudahan berkomunikasi dengan crew dan harga tiket yang lebih murah. Meskipun, harus diakui, fasilitas layanannya kalah jauh dibanding airline yang lain. Sekarang, untuk ke Auckland kita masih bisa terbang dengan SQ, MAS, Brunei dan Qantas. Belakangan ada berita di koran, kata dirut Garuda - Emirsyah - akan dibuka lagi penerbangan ke beberapa kota di luar negeri. Mungkin gara-gara Garuda sebagai perusahaan sudah mulai menuai keuntungan nih. Ditunggu deh kabar baiknya pak Emirsyah, mudah-mudahan Auckland disinggahi lagi dong ya. (Keterangan foto: menikmati makan siang di pinggir sungai di kota Hamilton)

Aotearoa

Konon waktu orang Hawaiki (di kepulauan Hawai sekarang) mengarungi samudera Pasifik dalam rangka expedisi di tahun 900 an masehi, mereka menemukan suatu bentangan awan putih yang panjang (ao= awan, tea= putih, roa-panjang, atau awan putih panjang). Ternyata bentangan awan itu berada di atas wilayah New Zealand. Mereka pun lantas merapat di tanah New Zealand dari arah Great Barrier Island, arah timur dari North Island. Sejak itu nenek moyang bangsa Maori menyebut tanah yang baru ditemukan itu (dikenal sebagai NZ saat ini) sebagai Aotearoa. Arti lain dari Aotearoa ialah perahu kanu yang panjang, ini untuk mengingatkan bagaimana leluhur orang Maori melakukan expedisi mengarungi samudera luas hanya dengan menggunakan perahu-perahu kanu yang panjang. (Keterangan foto: Hakim & teman2 Indonesia berpose bersama Perdana Menteri NZ, Helen Clark - foto Ivan MW)

Kia Ora

"Halo, apa kabar?", itu kira-kira artinya dalam bahasa Maori. Di NZ begitu banyak hamparan rumput luas. Silakan duduk-duduk santai dan anggap saja seperti di rumah sendiri. Mau tiduran juga boleh sambil bermandi hangatnya matahari. Jangan lupa bawa makanan dan minuman sendiri. Atau... hmmmm, sambil BBQ juga ok. Pokoknya santai aja, nggak usah kuatir banyak debu atau didatangi preman. Mencari taman rumputnya pun nggak perlu bermacet-macet, bahkan cukup jalan kaki. Inilah secuil gaya hidup orang kiwi (sebutan untuk new zelander). Menikmati hidup sambil mensyukuri anugrah sang Pencipta. Anak-anak riang gembira bebas, berlarian kesana kemari. Di NZ hidup tidak perlu terburu-buru, yang pas-pas saja. (Keterangan foto: menikmati danau Pupuke, Takapuna, North Shore - Auckland)