Sabtu, 30 Januari 2010

Magic Word

Apa perbedaan mendasar yang dirasakan ketika tinggal di New Zealand dengan tinggal di Indonesia. Jawaban saya sederhana; keseimbangan hidup.

Tak heran kalau dari riset mengatakan kualitas waktu keluarga di New Zealand adalah salah satu yang tertinggi di dunia. Bahkan ketika para pengusaha retail berniat memperpanjang jam buka toko atau pusat belanja, langsung mendapat protes dari para pekerja. Sebab, waktu buat keluarga dikuatirkan akan berkurang.

Orang kiwi (sebutan penduduk NZ) sering terheran-heran dengan bagaiamana ngototnya para imigran asia mencari uang siang dan malam. Seolah takut mati kelaparan dan kekurangan uang. Bagi mereka asal bisa pergi ke pantai atau ke taman dengan keluarga sambil membawa bekal, itu sudah merupakan kenikmatan luar biasa, meskipun pekerjaan mereka adalah handyman, plumber atau pekerja pabrik yang ahir-ahir ini posisi itu banyak direbut oleh pekerja Asia.

Jadi magic word nya; k e s e i m b a n g a n.

Kembali ke Selera Asal

Anak kami, Vikra, sudah 2 bulan berlibur di Jakarta. Ahir bulan ini dia berencana kembali ke Auckland untuk kuliah di semester 3. Liburan musim panas memang bisa sangat panjang sampai 3 bulanan. Apartment yang dia sewa bersama beberapa temannya dia lepas dulu, nanti menjelang kuliah dia cari lagi apartment sekitar kampus, di AU. Barang2 dia titipkan dulu di sejumlah temannya. Begitulah suka dukanya jadi mahasiswa di LN.

Kalau dari cerita Vikra, soal makan memang menjadi kurang terperhatikan. Makanan dari catering sering lebih cepat habis karena diserbu oleh kawan-kawan yang suka mampir di apartment nya. Walhasil, kalau lapar berat dan tak ada makanan, dia turun kebawah ke minimart 24 jam yang menjual nasi goreng oriental dlm kemasan frozen. Dibawa keatas, panaskan di microwave, lalu hap. Atau kalau malas turun, cukup makan cereal dengan susu.

Duh, hati teriris juga membayangkan apakah gizinya terpenuhi?

Nah, selama liburan di Jakarta, koki di rumah boleh dikata memasak sesuai order Vikra. Semacam membalas kerinduan akan aneka makanan Indonesia, misalnya rawon, oseng tempe, pepes tahu, tempe mendoan, sup kacang merah, dll. Itung-itung perbaikan gizi dan selera. Biar gimanapun, sekali lidah melayu tetap selera melayu ya Vik.

Kamis, 24 September 2009

Bilakah Rasa Ikhlas Itu Datang?

Dalam sebuah laporan media, tertulis hasil penelitian CPI yang menggambarkan persepsi mengenai negara dan korupsi. Data yang diketengahkan adalah mulai dari 1985 s/d 2008. Dalam kurun lebih dari 20 tahun itu, Indonesia sebanyak tiga kali berada diposisi 3 negara terkorup, berdampingan dengan negara seperti Nigeria, Kamboja, dan negara dunia ke 3 lainnya.

Sedangkan New Zealand bisa dibilang menjadi langganan diposisi 3 negara paling bersih, berdampingan dengan negara2 skandinavia model Swedia, Finlandia dan Norwegia. Ini berarti para pegawai negri yang mengelola roda negara New Zealand memegang prinsip amanah seperti yang diajarkan Rasulullah. Prinsip memegang amanah ini bahkan tampaknya gagal dijaga oleh para birokrat di negara2 yang mayoritas populasinya muslim, seperti Indonesia, Nigeria, Yaman, Bangladesh, yang notabene mustinya lebih dekat dengan apa yang diteladankan Rasulullah.

Maka, ketika hari ini terbetik berita tentang hasil audit BPK terhadap Depdiknas, hasilnya sekitar Rp 800 milyar berpotensi lenyap akibat korupsi. Saya hanya bisa mengurut dada lagi dan lagi (karena berita model ini kerap kita dengar).

Meskipun pajak di NZ saat ini masih lebih besar dari tanah air, tapi rasanya lebih rela ketika upah kerja kita di NZ dipotong untuk pajak, karena keuangan negara yang banyak bersumber dari para taxpayer ini dikelola secara lebih amanah oleh para birokrat demi kesejahteraan bersama.


Departemen Keuangan dibawah Sri Mulyani memang tampak sedang mereformasi diri, meskipun tertatih-tatih. Kalaupun para aparat pajak dan bea cukai yang berada dibawah Depkeu ini sudah bersih, lalu bagaimana dengan instansi yang lain? Bilakah rasa bangga dan ikhlas itu datang, seperti saat upah kerja saya di NZ dipotong pajak?

Jumat, 28 Agustus 2009

Double standard?

Terbetik berita di TV kemarin, sekelompok anggota yang idealismenya membela Islam di Samarinda mendatangi rumah seorang anggota jemaah Lia Eden. Alasannya sama seperti ketika organisasi ini memburu anggota Ahmadyah, yaitu: "Jangan lakukan penodaan dan penistaan agama Islam...."

Saya tercenung sejenak, mengingat-ingat lagi, apakah organisasi ini juga menghujat para teroris bom bunuh diri, yang menelan korban jiwa manusia tak bersalah (baik muslim maupun non muslim) yang mengaku berjihad atas nama Islam. Tidakkah organisasi yg suka membela Islam itu juga berpikir seperti saya yang juga muslim, yaitu merasa terganggu dengan perbuatan yang menodai dan menistakan Islam karena mengaku atas nama perjuangan Islam membunuhi manusia tak bersalah?

Kemana akal sehat para pembela Islam itu?

Rabu, 29 Juli 2009

Aya-aya Wae...

Maskapai penerbangan NZ, Air New Zealand, kali ini sangat kreatif. Sesuai peraturan penerbangan, dimana sebelum take off penumpang wajib diberi tahu cara-cara penyelamatan dalam keadaan darurat, maka dibuatlah sebuah film berisi tata cara tersebut (Garuda dan banyak maskapai lain pun membuatnya). Tapi yang membedakan, maskapai Air New Zealand memperagakan tata cara tersebut dengan menampilkan air crew yang tidak mengenakan pakaian alias bugil. Tubuhnya hanya di lukis seolah-olah memakai seragam. Tentu saja ini banyak membuat penasaran dan, diharapkan penumpang tidak cuek lagi untuk memperhatikan tayangan film ini sebelum take off. (Seperti kata Jarwo Kwat dalam Republik Mimpi sering mengatakan)... "Aya-aya wae..." (ada-ada aja).

Minggu, 24 Mei 2009

Tokyo Termahal, Jakarta Ter...

Tokyo dikenal sebagai kota termahal di dunia, selain London, New York, Geneve dan Paris. Semakin tinggal di pusat kota semakin melambung biaya hidupnya. Bagaimana dengan Auckland? Dapat dikatakan karakter nya sama saja dengan kota besar negara maju lainnya di dunia.

Untuk Jakarta, saya berani katakan sebagai kota "termewah" di dunia. Ya, sebab urusan masak, mencuci dan menyetrika baju, membersihkan kebon halaman, menyupiri mobil kita dan mengasuh anak bisa diserahkan kepada para pekerja rumah tangga (PRT) dengan biaya yang relatif terjangkau dibanding membayar jasa sejenis bila tinggal di kota2 tersebut di atas.

Di Auckland, misalnya, ketika kami membeli perangkat kursi dan meja makan yang dikirim ke rumah dalam keadaan masih terurai, memerlukan extra tenaga untuk memasangnya satu persatu. Kecuali anda mau keluar extra $200 untuk jasa pemasangannya, padahal harga pembeliannya tak lebih dari $400. Ketika merakit satu persatu dengan keringat bercucuran, pikiran saya melayang ke tanah air. Betapa banyak tangan-tangan yang siap membantu demi sekedar uang rokok dan secangkir kopi tubruk. Ya, Jakarta memang kota "termewah" karenanya.

Sabtu, 16 Mei 2009

Bagaimana Anda Bisa Katakan Anda Lebih Islam?

Dalam hingar bingar politik tanah air, ada catatan kecil yang saya anggap besar. Tersebutlah salah satu partai berhaluan Islam yang secara emosional meminta SBY meninjau ulang calon wapresnya, Budiono. "Kami minta ummat Islam terepresentasi dalam kepemimpinan nasional," serunya. Dalam hati saya, ini maksudnya Islam apa lagi? Bukankah SBY dan Budiono itu juga ummat Islam? Yang non muslim jangan-jangan akan berpikir, "Oooo, emangnya SBY dan Budiono itu bukan Islam toh?"

Saya bukan pendukung SBY dan juga seorang penganut Islam. Setahu saya Allah membedakan manusia dari ketaqwaannya, bukan dari apakah ia seorang kader parpol Islam. Apalagi sejarah mencatat kader parpol Islam ternyata tak bebas dari perilaku korupsi dan perselingkuhan.

Jumat, 08 Mei 2009

Daripada Mimpi Politik

Dalam pandangan seorang Trinity, anak polisi yang lahir di Sukabumi, keindahan alam NewZealand -- khususnya di kawasan south island -- disebutnya sebagai "Best Breathtaking Scenery". Kekagumannya itu dia tuangkan dalam buku bertajuk "Naked Traveller 2007" berisi kisah pengalaman perjalanan dari kacamata seorang backpacker yang sampai saat ini telah menyambangi 37 negara.

Secara pribadi, saya pernah kesulitan mengungkapkan keindahan south island di New Zealand ini.
Sebelumnya, pemandangan seperti itu rasanya saya lihat cuma lewat mimpi-mimpi yang mampir di tidur saya yang nyenyak dan sedikit ngorok itu..

Pokoknya, Anda harus melihatnya sendiri dan biarkan pengalaman batin yang Anda peroleh itu tersimpan di sanubari sampai akhir hayat, dan munculkan --sekali-kali bila kangen-- di mimpi-mimpi indah Anda (daripada memimpikan hingar bingar politik ala pasar ternak di tanah air).

Antara Auckland dan Jakarta

Ini bukan mau ikut-ikut lagu Antara Anyer dan Jakarta, tapi cuma mau sekedar sharing soal peringkat kota-kota dunia yang memberikan kualitas hidup terbaik bagi penghuninya berdasarkan survey tahunan yang bertajuk "Mercer Quality of Living Survey - Worldwide Ranking 2009". Indikator2nya antara lain; infrastruktur, fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, pasokan listrik, gas dan air; transportasi; ruang terbuka hijau; alamnya, dst.

Kota ternyaman dan memberikan kualitas hidup terbaik di dunia adalah Wina ibukota Austria. Auckland sebagai kota terbesar di New Zealand, menduduki ranking nomor 4 dunia yang sama dengan Vancouver di Canada. Auckland juga ditasbihkan sebagai kota yang memberikan kualitas hidup terbaik di Asia Pasifik. Lebih baik dari Sydney, Melbourne dan juga Wellington.

Bagaimana dengan Jakarta? Kota yang dikenal dengan "lebih kejam dari ibu tiri" ini jauh tertinggal di peringkat 140an. Di belakang Kuala Lumpur, Bangkok dan bahkan Manila. Tengok saja soal pasokan air bersih di Jakarta yang baru meliputi 35% penduduk. Ruang terbuka hijau yang masih di bawah 20% dan sarana transportasi yang masih jalan di tempat. Belum lagi soal banjir.

Jakarta memang perlu merevolusi dirinya dan itu harus dimulai dari aparatnya yang selama ini dikenal berjiwa koruptif. Rupanya Jakarta tak cukup cuma diberikan ke "akhlinya" yang pada kenyataannya tak terlihat kemajuan berarti.



Minggu, 15 Maret 2009

Changeable Road

Berita tanah air yang rutin di awal tahun apa lagi kalau bukan berita banjir. Indonesia termasuk negara dengan curah hujan yang tinggi, namun karena perusakkan lingkungan berlangsung secara dasyat, maka berita banjir menjadi langganan kita. Anehnya, tak ada satu pemerintahan pun yang secara komprehensif melakukan aksi nyata buat mengikis resiko banjir dan tanah longsor.

Belum lagi bagaimana kualitas jalan selama musim hujan yang terlihat boroknya. Jangankan jalan di kampung atau pedalaman, jalan-jalan utama/protokol di ibu kota saja bolong sana-sini bahkan sampai memakan korban jiwa pengendara sepeda motor.

Kalau di New Zealand terkenal dengan istilah changeable weather, karena dalam sehari kita bisa mendapatkan hujan dan panas berganti-ganti, di tanah air khusunya Jakarta lebih tepat disebut changeable road. Mengapa? Karena, di musim hujan jalan yang biasanya tak begitu macet pun akan macet total. Atau, jalan terendam banjir karena riol yang tak beres. Belum lagi, kalau kemarin jalan sudah mulus, begitu hujan beberapa hari saja kondisi jalan akan berlubang membuat kubangan. Atau, beberapa terowongan atau kolong fly over tiba-tiba sulit dilewati karena pengendara sepeda motor seenaknya berhenti hingga bertumpuk-tumpuk sambil menanti hujan reda. Sungguh, dibutuhkan kesabaran tinggi berkendara di musim hujan di Jakarta.

Senin, 02 Maret 2009

Hati-hati memilih sekolah di New Zealand

Setiap jelang tahun ajaran baru berbagai agen sekolah luar negri sibuk berpameran menawarkan sekolah-sekolah kepada pelajar Indonesia, termasuk kesempatan belajar di New Zealand. Untuk perguruan tinggi ternama di New Zealand, logikanya tidak terlalu membutuhkan agen di negara lain. Lha, peminatnya banyak kok, buat apa perlu agen lagi? Lalu sekolah macam apa dong yang masih membutuhkan para agen untuk mencarikan siswa overseas? Ya, jelas bukan sekolah unggulan.

Di New Zealand, hanya ada beberapa perguruan tinggi bergengsi dan terakreditasi, yaitu: Auckland University (AU), University of Victoria (Wellington), University of Canterbury (Christchurch), University of Otago (Dunedin), sedangkan second layer nya adalah Auckland University of Technology (AUT), University of Waikato (Hamilton) dan Massey University (yang terakhir ini pusatnya di Palmerston North dan ada juga kampusnya di Auckland). Dalam laporan rangking universitas dunia, AU berada dalam 50 rangking dunia.

Selebihnya adalah perguruan tinggi yang masih harus berjuang untuk menjadi peringkat baik, dan sekolah-sekolah inilah yang menebar agen di luar negri untuk menjaring siswa overseas.

Nah, buat para calon mahasiswa dan orang tua mudah2an informasi ini berguna adanya.




Tak Ada Partai yang Gigih

Berita dari tanah air ini cukup menyedihkan. Empat ekor harimau Sumatra mati terjerat dan dibunuh penduduk di sekitar Jambi. Sementara sejumlah 6 orang tewas di Jambi, beberapa adalah penjaga kebun kelapa sawit, akibat diterkam harimau. Analisa berita mengatakan, habitat harimau kian terdesak, akibat penggundulan hutan demi memperluas ladang kelapa sawit. Inilah bukti kedunguan pemerintah di tanah air selama ini (sejak orde baru hingga kini), yang hanya berpikir pendek menggadaikan tanah negara demi memperoleh devisa. Bukan hanya itu, berita banjir dan longsor di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan apalagi di pulau Jawa adalah bentuk kedunguan yang lain, kali ini bukan cuma pemerintah akan tetapi segenap masyarakat di tanah air yang seperti tidak kapok-kapoknya diterjang bencana alam buatan tangan manusia sendiri.

Ah, kalau saja saya jadi presiden (mimpi kalee), akan saya tata ulang tata ruang negri nusantara ini. Ini adalah prioritas. Saya akan hapuskan kalau perlu HPH dan ganti arahkan devisa dari sumberdaya laut yang potensimya USD 4 milyar setahun atau hampir setara dengan 40 triliun rupiah. Biarkan hutan kita menghijau lagi dan udara segar kembali membahana di tanah air kita. Sayang, tak satupun partai peserta Pemilu yang terdengar gigih memperjuangkan hal di atas. Semua cuma rebutan kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri. Bukan untuk mensejahterakan rakyat.




Sabtu, 21 Februari 2009

Leluhur Tak Bertanggung Jawab

Mengikuti prediksi dampak pemanasan global membuat saya tercenung. Bayangkan akan ada beberapa negara kepulauan yang terancam punah akibat permukaan laut yang terus naik, seperti Maldives di Samudra Hindia dan Nauru di Pasifik. Di tanah air sendiri, setidaknya 2000 pulau diperkirakan akan tenggelam. Di tayangan Discovery Channel, negara pulau kaya Singapura sedang sibuk berpikir keras membuang air laut bila meluap ke daratan.

Di New Zealand, rumah-rumah pinggir pantai mempunya nilai harga yang lebih tinggi karena mendapatkan pemandangan alami yang indah setiap hari. Di suburb kami, Takapuna, rumah di pantai harganya jauh lebih tinggi dari yang bukan pantai. Apalagi warga New Zealand sangat gemar olah raga laut.
Dengan adanya kenaikan permukaan laut dari tahun ke tahun tentu ini akan berdampak pula pada nilai property yang berada di pantai.

Cucu cicit kita akan menjadi saksi sejarah hilangnya pantai Kuta, Kepulauan Seribu, tenggelamnya sebagian besar Semarang, Jakarta, Auckland, dll. Sungguh, perbuatan leluhur mereka yang tidak bertanggung jawablah yang membuat mereka tak bisa lagi menikmati keindahan pantai2 dan kota2 itu.

Minggu, 01 Februari 2009

Lebih Cermat dengan Uang

Dalam sebuah media di Indonesia, saya membaca tulisan seorang ekonom tentang kiat Indonesia menghadapi krisis global. Nasehatnya adalah orang Indonesia harus meng embargo diri sendiri dari nafsu membeli produk impor. Alasannya logis, karena pasar ekspor global menurun maka pasar lokal harus diperkuat oleh bangsanya sendiri. Apalagi Indonesia populasinya besar. Dengan begitu eksportir bisa mengalihkan produknya ke pasar dalam negri sehingga PHK bisa ditekan.

Hari ini terbetik di media, rupanya pandangan di atas itu didengungkan juga oleh Obama yang masih gres menjadi Presiden Amerika. Tapi pandangan tersebut banyak dikecam pengamat ekonomi dunia karena dalam kasus ini AS beda dengan Indonesia. AS adalah negara penyerap ekspor dunia tertinggi, sehingga bila imbauan Obama dilakukan ekonomi dunia pun akan semakin goncang, termasuk AS sendiri yang dengan daya beli melemah rakyatnya harus membeli produk lokal yang lebih mahal dari barang impor.

Di New Zealand barang impor juga sangat dominan, mulai dari mobil, barang elektronik, IT hingga handphone. Ada satu barang elektronik kebutuhan rumah tangga seperti mesin cuci dan lemari es buatan New Zealad, yaiu Fisher & Paykel. Namun merek ini harus tahan banting menahan serbuan produk Korea, Jepang dan China yang malah sering membandrol harga lebih murah.

Di manapun saat ini, mau di Indonesia, AS ataupun New Zealand, kita dituntut lebih cermat dalam membelanjakan uang karena krisis ini bisa saja baru berakhir 2 - 3 tahun mendatang.

Tanpa fatwa haram

Hmm, lebih 2 bulan saya tak menulis. Tersaingi oleh facebook, mungkin. Di tanah air baru saja MUI menfatwakan haram untuk merokok di muka umum, wanita hamil dan anak2. Alasannya, lebih banyak mudarat bagi diri sendiri dan orang di sekitarnya. Untuk alasan merokok di muka umum, setidaknya melindungi orang sekitar dari resiko sebagai perokok pasif.

Benar, kemerdakaan orang di Indonesia untuk menghirup udara bersih tak hanya kerap diganggu oleh ulah perokok saja, tetapi juga para pembakar kebun sawit, pembakar sampah hingga pemilik kendaraan yang cuek dengan asap knalpot yang bocor. Di Jakarta saja, sebetulnya ada perda yang melarang orang bakar sampah. Tapi dalam praktek, sering tetangga kita main bakar sampah yang asapnya menerobos masuk ke rumah2 tetangga lainnya. Belum lagi soal asap knalpot, microbus model metro mini, bajaj dan truk serta bus kota biasa sering saya lihat melenggang dengan asap knalpot hitam legam di belakangnya. Kasihan pengendara motor yang ada di belakanganya.

Di New Zealand, semua kendaraan tak terkecuali (komersial ataupun pribadi) harus di test secara berkala. Mulai dari fungsi lampu, rem hingga gas buang yang menghasilkan asap knalpot. Tak ada pungli meski dilakukan di bengkel2 swasta yang bertanda WOF (Warrant of Fitness). Pernah juga saya dengar bengkel milik orang Asia yang bermain mata dengan pelanggannya yang juga Asia (huh, lagi2 oang Asia bikin masalah). Tapi secara umum, anda bisa menikmati jalan kaki di New Zealand tanpa harus kuatir menghirup udara polusi dari asap knalpot kendaraan. Semua itu terjadi tanpa harus para agamawan nya mengeluarkan fatwa haram bagi pemilik kendaraan yang mengeluarkan asap knalpot diatas batas toleransi.

Sabtu, 08 November 2008

Clark atau Key?

Hari ini pemilu di NZ berlangsung. Beritanya memang tidak seheboh pemilu di US, yah apalah arti negara berpenduduk 4 juta dibanding US yg berpenduduk 300 jutaan. Namun tampaknya demam "perubahan" yang didengungkan Obama menjadi inspirasi tema kampanye John Key si penantang Helen Clark. Dari polling yang banyak dilakukan popularitas Key (berasal dari partai nasional) terus menguat, sementara Clark yang sudah dua kali menjabat sebagai perdana mentri (dari partai buruh) tampaknya dianggap cukup oleh rakyat NZ.

Siapapun yang terpilih, masalah ekonomi tentu menjadi prioritas. Biaya hidup yang terus merambat naik perlu diimbangi dengan geliat ekonomi yang meningkatkan daya beli rakyat. Cerita-cerita mulai dari PHK sampai harga kebutuhan pokok yang makin mahal terus terdengar.

Kita tunggu besok, siapa yang ahirnya bakal menjadi kepala pemerintahan di NZ selanjutnya.

PS. Key akhirnya memenangkan pertarungan. Rakyat NZ tampaknya ingin ada perubahan seperti halnya rakyat Amerika yang menginginkan perubahan melalui Obama.

Selasa, 30 September 2008

Nada Dahsyat

Menyambut hari Raya di Auckland tentu berbeda dengan di tanah air. Yang sangat saya rasakan rasa kehilangan menikmati nada dahsyat dari takbiran. Mendengar nada takbiran, hati saya selalu terenyuh, seperti merasakan suatu keadaan yang maha kecil dihadapan yang Maha Besar.

Keesokannya, pas hari lebaran, umat Islam di Auckland berbondong sholat Ied di lapangan olah raga atau gedung pertemuan. Suasananya lebih global, karena kita bercampur dengan orang Somalia, Afrika Selatan, Mesir, Tunisia, Jazirah Arab, Iran, Afghan, Pakistan, India, Malaysia dan orang bule Kiwi yang muslim. "Eid Mubarak", begitu ucapan terlontar ketika saling bersalaman selepas sholat Ied. Setelah itu, makanan tersaji di meja-meja yang panjang, dan kitapun menikmatinya dalam aneka rasa yang mewakili etnik muslim yang ada di Auckland.

Allahu Akbar Allahu Akbar...., hatipun tercekat dan pikiran melayang pada suasana lebaran di tanah air.

We are What We Eat

Besok 1 Oktober adalah Hari Raya Idul Fitri di tanah air. Seperti biasa harga bahan makanan naik, termasuk daging sapi dan kambing. Makanan khas lebaran antara lain rendang daging, sambal goreng ati, opor ayam, ketupat, sayur lodeh labu, dll. Kemanangan di ujung Ramadhan dirayakan dengan aneka macam makanan khas di atas. Begitu bersemangatnya merayakan hari kemenangan, sampai tak mengindahkan lagi aspek thoyibah atau yang baik buat masing-masing individu.

Makan manis-manis halal buat saya pribadi, tetapi tidak thoyib, karena selain sudah usia mendekati 50, juga ada faktor genetik potensi diabet (4 orang dari 9 saudara kakak beradik di keluarga saya sudah terkena diabet). Padahal Allah menyuruh kita merawat tubuh ini sebaik-baiknya. Maka, sepantasnya kita bisa memilih dan memilah santapan hari raya secara bijak. Pilihlah bukan hanya karena halal, tetapi juga karena thoyib buat tubuh kita. Karena dengan begitu kita sudah menjalankan perintah Allah secara lebih menyeluruh dalam urusan makanan ini.

Masih urusan makanan, statistik mengatakan penderita penyakit jantung koroner banyak diidap masyarakat Sumatera. Mungkin karena masakannya banyak menggunakan santan dan itu dikonsumsi terus menerus hampir sepanjang usianya. Hemat saya banyak masakan Manado, Bali dan Sunda yang masuk kategori sehat. Mungkin sudah waktunya ada suatu penelitian untuk menyeleksi apa-saja makanan nusantara yang masuk kategori sehat.

Anda tertarik melakukannya?

Senin, 15 September 2008

Thika dan Dian

Thika dan Dian adalah dua putri Aceh yang seketika menjadi yatim piatu menyusul bencana tsunami tahun 2004 yang lalu. Selepas lulus dari SMA Fajar Hidayah, mereka ingin sekali bisa melanjutkan sekolah ke luar negri. Hampir saja mimpi itu menjadi kenyataan, tatkala mereka "diangkat" oleh sebuah keluarga di Singapura. Sayangnya, sang orang tua angkat belum mampu menyekolahkan mereka di Singapura lantaran sang orangtua angkat sendiri masih punya 4 anak kandung mereka yang juga memerlukan biaya. Dian dan Thika pun kembali ke tanah air, dipanggil oleh pengurus Sekolah Fajar Hidayah di Jakarta. Bu Draga, demikian nama pengurus yayasan, sedang mengusahakan sekolah dengan bea siswa di salah satu universitas swasta di Bogor. Mudah-mudahan mereka diterima di Bogor, dan untuk sementara mimpi bersekolah di luar negeri tetap menjadi harapan yang tersimpan di sudut hati masing-masing.

Dalam nasehat saya kepada mereka, saya tekankan untuk jangan memadamkan mimpi itu. Siapa tahu ada keluarga di New Zealand yang mau "mengangkat" mereka dan menyekolahkannya di negeri Kiwi ini.

Senin, 01 September 2008

Ibadah Sakral, Perilaku Tak Dijamin...

Hari ini 1 September 2008, umat Islam di tanah air memulai ibadah shaum Ramadhan nya. Di New Zealand sendiri baru akan mulai esok hari. Pikiran pun melayang ke masa lalu, ketika menjalani ibadah puasa Ramadhan di Auckland. Ketika itu jatuh dibulan menjelang puncak musim panas, sehingga matahari pun baru tergelincir sekitar pukul 9.30 malam. Kalau muslim di tanah air sudah bisa berbuka sekitar pukul 6 sore, kami yang tinggal di Auckland saat itu masih harus menahannya 3,5 jam lagi.

Ujian lainnya, cafe, restaurant dan berbagai hiburan tetap beroperasi. Meskipun New Zealand bukan negara agama, namun tradisi kristen sangatlah mempengaruhi kebiasaan rakyatnya. Sehingga libur nasional sama sekali tak ada yang berhubungan dengan peringatan hari-hari besar Islam. Maka, sholat tarawih atau bahkan sholat Ied, diadakan di hari kerja dengan menyewa tempat-tempat yang luas seperti sport hall, dll. Setelah usai sholat Ied, sebagian besar kemudian bergegas ke tempat aktifitas rutinnya seperti bekerja atau sekolah. Sungguh jauh dari suasana puasa dan lebaran di tanah air.

Ketika saya sempat bekerja di restauran cepat saji dekat rumah, manager in duty yang orang Maori terheran-heran mengetahui bahwa di saat itu saya bekerja tanpa makan dan minum sampai pada waktunya berbuka.

Begitulah suka duka berpuasa di negeri orang yang mana umat Islam nya menjadi minoritas. Tapi saya dan keluarga merasa plong bisa melewati dengan tetap ikhlas. Apalagi ujiannya cukup berat, mulai dari jam berbuka yang mundur juga melihat suasana normal sehari-hari di mana orang bersantai makan di cafe-cafe pinggir jalan.

Sementara saat itu melalui berita online terbaca bagaimana sekumpulan orang berpeci putih mengatasnamakan organisasi Islam
dengan beringas sibuk mengobrak-abrik cafe-cafe yang dianggap menawarkan maksiat atau barang haram. Kenapa mereka lakukan hanya jelang bulan puasa? Atau kenapa mereka tidak mengobrak-abrik institusi-institusi yang banyak menyusahkan rakyat karena berbagai pungutan liarnya? Jangan-jangan ini karena ibadah itu sendiri sudah dituhankan oleh mereka. Ibadah harus sakral dan tanpa gangguan, tetapi perilaku sehari-hari tidak dijamin....