Minggu, 06 April 2008

Aksi FBI

Anak kami, Vikra, yang masih sekolah di Auckland, punya pengalaman menarik ketika mulai sekolah di Takapuna Grammar School tahun 2004 (kalau di tanah air setingkat SLTA). Karena matanya yang terlihat sipit, teman-teman barunya mengira ia seorang Korea. Apalagi ketika baru masuk, ia "dibawa" temannya yang Korea untuk diperkenalkan ke teman-temannya.

Lala-lama tentu saja ketahuan kalau dia bukan orang Korea. Apalagi belakangan dia diketahui sebagai muslim, makanya lalu Vikra pun dekat bermain dengan teman-teman muslim asal Iraq (di NZ lumayan banyak warga Iraq yang lari dari negaranya karena tidak cocok dengan Saddam Husein). Maka, diantara orang Iraq yang hidungnya bangir dan berbadan besar, terselip seorang anak dengan wajah "Korea" yang badannya lebih kecil.

Namun berjalannya waktu, sekarang dia sudah bermain dengan siapa saja. Bahkan kelompok "film" nya sangat multi etnik, ada yang dari Iraq, Serbia dan Kiwi. Begitulah pergaulan anak muda, akan mencair dengan sendirinya. Dalam situs pribadinya, Vikra sendiri menyebut dirinya sebagai Full Blood Indonesian (FBI).

Maka, bukan tidak mungkin mereka saling mengenal budaya asli masing-masing temannya. Suatu kali, neneknya Vikra mengirimkan CD berisi musik-musik "Degung", yaitu musik tradisional Sunda, daerah asal orang tuanya Vikra. Ketika Vikra sedang mengajak teman-temannya yang sebagian non Indonesia dia memasang musik Degung itu di mobil. Tentu saja anak-anak muda yang sudah lama dibesarkan di NZ ini terheran-heran ketika mendengar musik Degung ini. "What the f**k music is this?" kata salah seorang temannya.

Tidak ada komentar: