Minggu, 24 Februari 2008

Tahun Baru Cina

Sejak era Presiden Gus Dur, warga keturunan Tionghoa sedikit bernapas lega karena eksistensi mereka sudah lebih diakui. Salah satunya kebebasan buat merayakan tahun baru tradisi Cina. Maka, sejak itu sudah menjadi hal biasa kita menyaksikan peragaan seperti barongsay dalam arak2an cap go meh. Dalam hal makanan, selain dodol dan kue bulan, juga dikenal lontong cap go meh (lontong dan sayur labu diiris tipis disiram kuah santan tambah telur dan ayam). Lontong cap go meh ini bahkan dijadikan menu makanan di beberapa restoran atau warang-warung, jadi tidak mesti dijual saat tahun baru Cina saja.

Di Auckland, sekitar tahun baru Cina biasanya diadakan acara Lantern Festival dalam beberapa hari, mengambil tempat di Albert Park. Ini adalah kesempatan orang Asia menjajakan dagangannya, yang paling favorit apalagi kalau bukan makanan. Salah satu orang Indonesia pemilik usaha jasaboga IndoKitchen (ini tak ada hubungannya dengan grup Salim) menjadi peserta tetap acara ini. Penjualan makanannya selalu habis dalam jumlah yang besar

Sejak peristiwa berdarah Mei 1998 di Jakarta dan kota2 besar Indonesia lainnya, eksodus warga Indonesia keturunan Tionghoa ke luar negeri mendadak naik, termasuk ke NZ. Kabarnya sangking melonjaknya jumlah pendatang dari Indonesia itu, sampai2 kemudian pemerintah NZ merasa perlu memberlakukan visa buat orang Indonesia.

Warga keturunan Tionghoa di manapun di dunia ini mampu hidup melalui perjuangan yang luar biasa. Rajin bekerja, hemat dan tak mengenal putus asa. Rasanya pantas juga untuk diadopsi semua orang. Gong Xi Fat Coi!

Kisah Mas Parjo

Mas Parjo yang sederhana dan polos sangat ingin membahagiakan anak istrinya dengan kebutuhan yang cukup, mulai dari sekolah anak hingga gizi sehari-hari keluarga. Menjadi tenaga panggilan untuk memperbaiki rumah memberinya penghasilan yang tidak pasti. Apalagi harga kebutuhan pokok sudah kurang bersahabat. Satu istri dan dua anak (satu anaknya sekolah di kampungnya di Jawa) tentu bukan beban yang enteng untuk berjuang hidup di Jakarta

Hingga tibalah berita harapan yang ditunggunya, yaitu, ia mendapatkan visa kerja untuk menjadi pekerja di perkebunan anggur di NZ. Sorot matanya begitu bercampur aduk, antara senang dan mungkin segumpal pertanyaan2 tentang bagaimana hidup di negeri asing.

"Mas Parjo, kalau habis buang air besar kamu harus membiasakan cebok dengan kertas tissue gulung ya", kata saya coba memulai salah satu persoaalan yg akan ia alami nanti. "Oh gitu ya pak, tapi kalau setelah saya 'gunjleng' toiletnya kan nanti keluar air yang bersihnya. Boleh nggak saya cebok pakai air itu?" tanyanya dengan sangat polos dengan tatapan mata penuh harap agar bisa disetujui.

Begitulah perjuangan hidup Mas Parjo babak berikutnya, insha Allah ia akan berangkat ke Blenheim guna menjadi tenaga kerja pemetik buah anggur selama 1 tahun. Harapannya tak lain agar ia bisa menafkahi keluarganya. Sesederhana itu. Selamat berjuang, mas, semoga Allah selalu melindungi. Amin.


Jumat, 15 Februari 2008

Untung Tidak Punya Habibie

Ada berita tentang Indonesia yang bakal mengalami defisit pilot di tahun2 mendatang, ini kata ketua Asosiasi Pilot Indonesia, lantaran maskapai penerbangan dalam negri sangat agresif menambah armadanya dan selain itu banyak pilot kita yang hengkang bekerja di maskapai asing yang memberi gaji sampai 3 - 4 kali lipat. Jumlah yang masih dibutuhkan sampai ratusan! Tentu saja Sekolah Penerbangan di Curug tidak bisa segera mencetak ratusan pilot yang dibutuhkan. Maka, sekolah penerbangan di luar Indonesia mau tak mau jadi pilihan.

Di NZ, juga terdapat sekolah pilot yang bisa diandalkan. Barangkali saja para pemuda/i tanah air ada yang berminat masuk sekolah penerbang di NZ? Dari beberapa sekolah penerbang NZ salah satunya adalah sekolah penerbang di Ardmore ( www.ardmore.co.nz ). Memang sejarah penerbangan di NZ sebetulnya hampir bersamaan dengan munculnya pesawat bermesin pertama yang diterbangkan Wright bersaudara awal abad 20 yang lalu. Tepatnya di 1903, ketika Richard Pearse berhasil menerbangkan pesawat buatannya sejauh 150 yard di Waitohi NZ. Ini adalah pesawat bermesin ke 6 yang terbang di dunia!

Bukan hanya itu, di 1936 Jean Batten, seorang perempuan NZ untuk pertama kali menerbangkan pesawat dari Inggris ke NZ. Kini namanya diabadikan dalam suatu corner khusus di Auckland Airport, lengkap dengan foto-foto dokumentasi ketika ia tiba mendarat dengan selamat dalam penerbangan London - Auckland yang bersejarah itu.

Meskipun NZ punya sejarah penerbangan yang berkelas dunia, namun negeri ini tidak lantas tergoda menjadi produsen pesawat seperti Indonesia. NZ yang 'down to earth', memilih mengembangkan teknologi guna menunjang industri pertaniannya saja (perkebunan dan peternakan) ketimbang teknologi pesawat yang sangat menyedot uang negara itu. Untung NZ tidak memiliki Habibie...


Kamis, 14 Februari 2008

Antara Australia, New Zealand dan Indonesia

(Judul di atas terinspirasi dari judul film yang sedang diputar di tanah air, yaitu "Antara Aku, Kau dan Mak Erot").

Ternyata salah satu negara yang rajin mengritik Indonesia dalam penegakkan Hak Azasi Manusia (HAM), kemarin baru saja melakukan sebuah pengakuan atas tindakan masa lampau yang bertindak brutal kepada warganya sendiri. Hal yg sepertinya sulit dilakukan oleh rezim sebelumnya, yang memang doyan pamer kekuasaan dan kekuatan.

Di depan parlemen Australia, PM Kevin Rudd menyampaikan secara resmi mewakili pemerintahan2 sebelumnya, sebuah permintaan maaf atas tindakannya mencerabut anak-anak Aborigin dari keluarganya hingga era 70an untuk alasan asimilasi. Kini, banyak suku Aborigin yang kehilangan kemampuan berbicara bahasa asli mereka dan tidak tahu siapa orang tuanya. Begitulah, sebelum mengritik HAM di negara lain lain, sudah sepatutnya Australia bebersih dulu urusan HAM di dalam negrinya.

Di New Zealand (NZ), juga terdapat suku asli, yaitu suku bangsa Maori. Kini jumlahnya sekitar 500 - 600 ribu dari total 4 jutaan penduduk NZ. Orang Maori lebih mirip suku Melayu yang sawo matang, sedangkan Aborigin lebih mirip orang Papua. Orang Maori banyak yang berprestasi di olahraga rugby, olahraga paling populer di NZ, karena membutuhkan badan kokoh dan besar, tipikal banyak orang Maori.

Konon bagi orang Maori, tanah NZ adalah milik mereka yang disewa oleh pendatang dari Inggris. Sehingga setiap tahun negara mengalokasikan sejumlah dana yang tidak kecil yang dianggarkan untuk menyejahterakan orang Maori ini, katakanlah sebagai pengganti ongkos sewa tanah. Selain itu bahasa Maori dijadikan bahasa nasional kedua setetah bahasa Inggris, yang diajarkan disekolah umum. Jelas, posisi tawar orang Maori terhadap pemerintah / negara lebih baik dibanding orang Aborigin.

Di tanah air banyak terdapat suku asli yang masih hidup sesuai tradisinya. Bahkan tak jauh dari Jakarta ada suku Badui dalam yang tetap teguh memegang tradisi nenek moyang dan tidak terlalu tersentuh budaya moderen. Di pulau Sumatera, Kalimantan dan Papua Barat, suku asli banyak terdesak oleh penebangan hutan yang sangat rakus. Pemukiman mereka tergusur secara paksa hingga lahan penghabisan. Ini mirip kisah suku Indian di Amazone yang sudah banyak tersingkir dari pemukiman aslinya.

Belum lama ini, tersiar berita tanah air, sekelompok orang dari suku Anak Dalam di Jambi lari dari hutan ke kota untuk minta perlindungan polisi akibat permukimannya dibakar oleh penduduk desa tetangganya (yang bukan suku asli setempat), guna dijadikan ladang kelapa sawit.

Negara harus bertanggung jawab untuk melindungi kehidupan suku2 asli. Tanpa harus memberi bantuan uang, tetapi cukup menjamin habitatnya agar mereka bisa menjalani kehidupan sesuai kebiasaan dan tradisinya. Karena umumnya mereka sudah terbiasa hidup berdampingan dengan alam dengan kearifan2 yang diturunkan nenek moyang mereka.


Selasa, 05 Februari 2008

Kisah Bujang Sukses nan Gundah Gulana

Tersebutlah seorang pemuda (masih dibawah 30 tahun) yang hidup terdampar di NZ. Lulusan universitas di NZ ini sudah sukses dalam meniti karier, ia saat ini menduduki posisi penting di sebuah perusahaan cukup besar di NZ. Namun seperti tak cukup dengan kedudukan itu, pemuda yang pandai mengaji dan rendah hati ini juga memiliki bisnis yang bisa memberi pekerjaan kepada teman-teman Indonesia.

Saat ini kesuksesannya masih terasa kurang lengkap, karena ia belum memiliki pendamping hidup. Perangainya yang agak pemalu dan ketersediaan perempuan setanah air yang seiman nan langka di NZ, membuatnya tidak leluasa buat mencari calon istri.

Adakah dari Anda (wanita) di tanah air berminat untuk berkenalan? Siapa tau bisa berlanjut sehingga si bujang tak lagi gundah gulana.

Sabtu, 02 Februari 2008

Puja dan Cerca

Hari Minggu 27 Januari jam 13.10 wib, mantan presiden RI ke dua, Soeharto, wafat. Bagi anak kami yg lahir di th 90an, sosok Soeharto kurang dikenal. Tapi bagi generasi kami yg lahir di awal 60 an, praktis kami dibesarkan dan tumbuh di alam orde baru pimpinan Soeharto yang sarat dengan aroma feodalisme yang otoriter.

Puja dan cerca lekat setelah beliau lengser. Ketegasannya dalam bertindak dirindukan banyak pemujanya, meskipun ia lakukan dengan mengambil hampir seluruh kekuatan politik negeri. Ekstrimnya, atas perkenan dialah sesorang bisa duduk di kursi pimpinan partai politik oposisi. Sudah jadi pengetahuan umum, ketegasan yg dijalankan didukung oleh kekuatan militer, darimana ia berasal. Demokrasi ala Pancasila yang ia dengung2kan tak lain cara jitu untuk menggenggam seluruh elemen dan sendi kehidupan sosial, politik, budaya dan ekonomi.

Para kroni tentu sangat kehilangan dan saat ini merasa bimbang, apakah akan tetap tinggal di tanah air atau lebih baik hengkang menghindari kejaran aparat dalam persoalan penjarahan harta negara. Karena benteng pelindung mereka telah mangkat dan aparat merasa sudah tak ada penghalang psikologis lagi.

Bagi mereka para korban kekejaman rezim Soeharto, seperti yang dihilangkan, dibunuh, diculik, disiksa, digusur paksa, dipenjara sekian tahun tanpa proses pengadilan, dll, meminta agar era Soeharto menjadi pembelajaran bagi bangsa ini agar tak terulang lagi.

Di NZ, dahulu masih terdapat kuliah jurusan Bahasa Indonesia di Auckland University. Namun setelah peristiwa pembantaian warga sipil di Timor Timur oleh milisia pro Indonesia setelah jajak pendapat di 2001 yang lalu, peminatnya langsung susut sehingga ahirnya ditutup karena miskin peminat. Apalagi kemudian muncul peristiwa bom Bali pertama yang seolah menutup kemungkinan minat orang NZ mempelajari bahasa dan budaya Indonesia.

Kalau dahulu dikenal jargon 'right or wrong is my country', bagi saya lebih memilih 'right is right, wrong is wrong, my country is my country', karena terbukti tindakan sebuah rezim tidak selalu menguntungkan bagi negara dan bangsa.


Senin, 28 Januari 2008

Enak Mana, di NZ atau di Tanah Air?

Tulisan kali ini hanya ingin menyampaikan rangkuman komentar dan fakta yang saya peroleh saja, jadi silakan anda yang simpulkan sendiri.

Bagi mereka yang sudah hidup sangat mapan secara ekonomi di tanah air, umumnya merasa bahwa kesempatan untuk mendapatkan uang jauh lebih besar adanya di Indonesia, meskipun banyak pungli dan ketertiban masih rentan. Kalaupun nanti tinggal di NZ, biarlah itu untuk menikmati hari tua, ketika pundi2 uangya sudah terisi penuh dan tinggal menikmati pasive income saja. Udara bersih dan sitsem di NZ memang dianggap cocok untuk menikmati hari tua.

Bagi mereka yang bisnisnya belum berhasil atau sudah lama di PHK dan sulit mencari pekerjaan di tanah air, melihat bahwa tinggal di NZ adalah sesuatu harapan yang lebih baik (ini juga tercermin dari banyak respon email kepada saya setelah mereka membaca blog ini, yang umumnya menaruh harapan besar untuk bekerja di NZ). Memang dalam kenyataanya, banyak pekerjaan yang tersedia (selama kita tidak pilih2 pekerjaannya), dengan upah minimum yang berlaku standar.

Beberapa kenalan di NZ ada yang mencoba kembali ke tanah air untuk memulai kehidupan baru, tapi banyak yang merasakan bahwa ahirnya lebih baik kembali ke NZ. Ada yang karena sudah tidak tahan dengan kemacetan, ada yang menilai pendidikan buat anaknya lebih baik di NZ, dll. Sebaliknya, ada yang sudah mencoba hidup di NZ, tapi tak tahan dengan ketersediaan lapangan kerja yang mayoritas "blue collar", sehingga ahirnya memutuskan kembali ke tanah air.

Bagi saya, kita hormati saja keputusan masing-masing orang untuk memilih apakah mau tinggal di tanah air atau di NZ. Standar kehidupan masing-masing orang kan berbeda. Ada yang motifnya mencari keseimbangan antara materi dan jiwa. Ada yang motifnya kehidupan duniawi sehingga kaya adalah tujuan. Dan ada motif-motif lain lagi.

Saya pernah menonton acara talkshow di TV, di acara itu Komarudin Hidayat mengatakan: " dulu waktu saya kuliah dan uangnya pas2an, kepingin rasanya makan yang enak2. Sekarang, ketika sudah mampu menikmati makanan2 impian itu justru dilarang oleh dokter karena berbagai penyakit."


Sabtu, 19 Januari 2008

Christchurch - Mt. Cook

Dalam suatu kesempatan kami sempat melakukan perjalanan menjelajahi pulau selatan (NZ terbagi dalam 2 pulau besar, yaitu pulau utara dan pulau selatan yang ukurannya hampir sama besar). Berikut tulisan pertama.

Dimulai dari Christchurch
Setiba di bandara CHC pukul 9 pagi (perjalanan 1 jam lebih sedikit dari Auckland) kami dijemput perusahaan penyewaan mobil untuk dibawa ke kantornya guna menyelesaikan masalah administrasi. Awalnya kami complain, karena pesanan berupa Toyota Previa 8 seater (rombongan 8 orang) mereka ganti dengan Toyota Hi Ace 9 seater yang lebih besar dan kurang aerodinamis. Mereka katakan, harusnya kami dikenakan lebih mahal karena 9 seater, tapi karena ini kesalahan mereka, harga yang dikenakan sama dengan yang 8 seater saja. Setelah saya duduk dibelakang kemudi dan mulai menjalankannya, ternyata oke-oke saja. Rombonganpun demikian, apalagi cukup tersedia ruangan untuk menempatkan tas-tas kami. Kami meninggalkan kota ini sekitar jam 10 pagi.

Christchurch - Mt Cook
Rute yang dipakai SH (State Highway) 1 ke selatan, kemudian belok kanan mengambil SH 79 untuk bertemu di SH 8. Jalan disepanjang SH 79 dan SH 8 masih landai dengan deretan gunung-gunung cadas yang beberapa puncaknya ditutupi salju. Di SH 8 ini kami melintasi Danau Tekapo yang warnanya hijau. Sebuah gereja tua yang menjadi ikon tepi danau ini tampak berdiri kesepian. Setiba di persimpangan SH 80 kami berbelok ke kanan menuju Mt Cook, di mana hampir setengah perjalanannya berada ditepi Danau Pukaki yang keperakan dan sepi dari aktivitas manusia. Setengah perjalanannya lagi berada ditepi glacier yang mengering yang bersumber dari Mt Cook (merupakan puncak tertinggi di NZ). Tak satupun kota kecil dijumpai di sepanjang rute pinggir Danau Pukaki ini. Kami hanya berpapasan dengan satu dua mobil saja hingga ahirnya sekitar pukul 3 sore sampai pada tujuan, yaitu kompleks shelter dikaki Mt Cook tempat para pendaki mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melakukan pendakian. Kami menyantap makan siang sambil menikmati pemandangan puncak Mt Cook yang berselimut salju dan kerap tertutup kabut dari jendela kaca lebar restauran. Harga makanan tentu lebih mahal dari restauran sekelas pada umumnya, karena selain di daerah terpencil, restauran ini menyajikan pemandangan yang istimewa. Banyak pendaki atau sekedar turis menginap di kompleks yang meyediakan lodge dan bungalow ini. Pagi hari adalah waktu yang ideal untuk menikmati pemandangan karena belum banyak kabut yang turun.

Rabu, 16 Januari 2008

Pukulan Buat Bangsa Tempe

Ungkapan bangsa kita sebagai bangsa tempe, yang dahulu sempat diidentikkan dengan sesuatu yang lemah atau rendah, telah menjadi suatu kebanggaan tersendiri setelah bangsa lain mengakui keunggulan gizi yang terkandung dalam tempe.Tak kurang dari Amerika dan Jepang telah menempatkan tempe sebagai makanan sehat, bahkan kita sempat tersinggung ketika Jepang hendak mempatenkan tempe sebagai makanan asli mereka (belakangan beberapa desain batik Jawa dipatenkan Malaysia).

Sebagai makanan khas Indonesia, tempe menyedot 1,7 juta ton kacang kedelai untuk 2007 saja. Sayangnya, sekitar 50% dari kebutuhan tersebut harus diimpor. Dan, ketika dewasa ini harga komoditi itu di dunia meningkat 100%, hancurlah industri tempe dan tahu. Kemarin, para pelaku industri yang tergolong pemain small business atau home industry beramai-ramau demonstrasi di depan Istana presiden, meminta pemerintah bertindak untuk penyelamatan industri ini.

Bangsa Tempe sedang gundah karena identitas mereka bakal tidak eksis lagi akibat ancaman kepunahan tempe.

Di NZ, setidaknya Auckland, perantau Indonesia bisa memperoleh tempe di supermarket Asia dalam keadaan frozen. Yang pasti bukan diimpor dari Indonesia, sehingga rasanya agak berbeda. Selain itu, ada juga warga Indonesia yang memproduksi tempe rumahan untuk dijual ke orang-orang Indonesia lainnya. Yang ini rasanya lebih mendekati aslinya, sehingga tak heran banyak penggemarnya di kalangan orang Indonesia.

Kembali ketanah air kita hanya bisa prihatin, ketika harga daging dan ikan melonjak, tempe dan tahu adalah penyangga nutrisi bangsa ini dengan harga yang sangat terjangkau. Dimakan dengan nasi, kecap, krupuk dan sayuran, tempe dan tahu bisa memuaskan banyak perut anak bangsa.

Selasa, 15 Januari 2008

Tempe Sejati

Orang NZ baru saja kehilangan salah seorang Kiwi Teladan nya (selain nama buah dan nama unggas, Kiwi adalah juga sebutan bagi orang NZ), ia adalah Sir Edmund Hillary yang bersama Tenzing Norgay (seorang sherpa Nepal) menaklukkan puncak Mt. Everest (8848 m) pertama kali tgl. 29 Mei 1953. Beliau wafat tgl 11 Januari 2008 yang lalu akibat serangan jantung di usia 88 tahun. Perdana Menteri Helen Clark menggambarkan Hillary sebagai sari pati Kiwi, yaitu; rendah hati, pekerja keras dan jujur (dikutip dari harian Kompas 14 Jan. 2008).

Hmm, saya kira soal sari pati Kiwi di atas bisa ditularkan atau diadopsi juga sebagai sari pati Tempe (bukankah kita sering disebut sebagai bangsa Tempe?).

Senin, 07 Januari 2008

Bersatu Kita Kuat

Hari Minggu tgl 6 Januari 2008 kemarin, kenalan kami di NZ mengadakan syukuran khitanan putranya di Jakarta, mumpung lagi libur panjang rupanya. Maka, berjumpalah kami dengan banyak kenalan di NZ yang sedang berlibur di Indonesia. Pertanyaan yang paling banyak disampaikan adalah, "kapan ke Auckland?"

Dalam obrolan kemudian ada suatu ide yang menarik yang dilontarkan beberapa teman, yaitu kenapa orang Indonesia di NZ tidak berinisiatif membentuk suatu usaha patungan bersama agar terkumpul modal yang besar. Hmm, menarik memang, karena komunitas seperti China, Korea atau India sudah lumrah saling berpatungan membentuk suatu usaha, sehingga dengan modal yang besar bisa melakukan usaha dengan skala yang lebih besar.

Sepulang dari acara di atas, saya termenung, ide bagus tersebut memang harus bermodalkan bukan hanya dana tetapi juga rasa saling percaya. Mungkin inilah masalahnya, sesama perantau yang baru saling berkenalan belum tumbuh rasa saling percayanya. Bagaimanapun ini tetaplah ide yang menarik yang harus dipecahkan kendala-kendala psikologisnya. Saya hanya berharap bermunculan usaha-usaha sukses di NZ yang dikelola oleh orang-orang Indonesia. Semoga.

Cerita Sukses dari Christchurch

Dalam suatu kesempatan kami sempat mengunjungi kenalan Indonesia di Christchurch. Dia sudah tinggal disana lebih dari 5 tahun dengan memboyong keluarganya. Inilah salah satu teman yang sukses hidup di daerah selatan, ketika banyak orang Indonesia lebih menyukai tinggal di Auckland yang daerah utara NZ (mungkin karena daerah utara lebih hangat dan lebih ramai).

Selain memiliki rumah di Christchurch, dia juga memiliki tanah pertanian di utara kota ini yang disewakan ke orang lain. Belum cukup dengan itu, ia baru saja menyelesaikan satu tower apartemen termewah di tengah kota Christchurch yang satu unitnya minimal seharga 2 juta dollar, dan sudah sold out pula! Ketika kami diajak mengunjungi proyek apartemennya yang masih gres itu dia bercerita bagaimana upaya mewujudkan proyek ini, mulai dari mencari rekanan investor, pembiayaan bank hingga pemilihan rekanan builder. Semuanya dari nol. Sekarang dia berancang untuk pembangunan tower ke dua.

Mudah-mudahan kisah sukses ini menjadi inspirasi kawan-kawan yang lain.









Sabtu, 05 Januari 2008

Pengajian ala Kampung

Sabtu sore saat saya menulis blog ini, pikiran melayang ke suasana pengajian yang rutin diadakan setiap Sabtu sore di Auckland. Dilakukan seperti ala di kampung-kampung (tapi yg ini jadi Kampoeng Auckland deh namanya), yaitu ada seorang yang bertindak sebagai penceramah, kemudian yang lain takzim mendengarkan sambil duduk di tikar membentuk lingkaran. Di penghujung acara kemudian dibuka kesempatan tanya jawab.

Beberapa tamu pembicara dari tanah air sudah pernah memberikan tausiah di majelis yang diprakarsai oleh Himpunan Umat Muslim Indonesia Auckland (HUMIA). Sebut saja Aa Gym, Usman Mansyur, Astri Ivo, dll. Kegiatan yang banyak mengandung unsur gotong royong dan persamaan nasib sebagai perantauan ini sudah berlangsung beberapa tahun. Selesai pengajian kemudian semua peserta makan malam bersama dengan makanan bawaan (pot luck) masing-masing keluarga. Pengajian biasanya diadakan di community hall dengan menyewanya beberapa jam. Pengajian ini terbuka untuk dihadiri oleh siapa saja yang ingin mendapatkan siraman ruhani dan sekaligus bersilaturahmi.

Komunitas masyarakat Indonesia di Auckland selain yang muslim juga ada yang lain seperti KKIA (Keluarga Katolik Indonesia Auckland), Jemaat Gereja St. Andrew, dan lain sebagainya. Sedangkan wadah bagi semua warga ada PERMIA (Persatuan Masyarakat Indonesia Auckland) dan PPIA (Persatuan Pelajar Indonesia Auckland) yang biasanya bekerja sama membuat acara 17 Agustusan. Komunitas Indonesia di kota lain pun ada, seperti di Hamilton, Palmerston North, Wellington, Christchurch dan Dunedin.

Di negeri orang, sesama perantau dari tanah air sudah semestinya saling menganggap sebagai keluarga juga.

"So Easy..."

Liburan summer di NZ bisa sampai 2 bulan, yaitu dari awal Desember hingga akhir Januari. Tak heran kalau banyak orang Indonesia yang berlibur ke tanah air, termasuk baru-baru ini anak kenalan kami di NZ yang berusia 16 tahun datang berlibur (sebut saja A). Lalu dalam suatu kesempatan kami pergi bersama dan dia bercerita pengalamannya yang konyol ini.

Ketika ke Bandung si A tinggal di keluarganya beberapa hari dan iseng-iseng dia menayakan apakah bisa membuat SIM di Bandung ini? Lalu diantarlah si A ke tempat pembuatan SIM dengan membawa KTP saudara sepupunya. Ya, karena si A belum punya KTP di Indonesia sebab usia baru 16 (dan dia adalah permanent resident atau PR di NZ).

Berhasilkah? Yup, tentu. Uang kan bisa bicara. Hanya dengan 300 ribu perak hari itu juga jadilah SIM buat si A, tapi tertera namanya dengan nama sang sepupu (sebutlah M). Kalau dulu kita membuat SIM dengan "menembak" umur, sekarang bahkan dengan KTP orang lain urusan bisa beres meski foto di KTP jelas-jelas beda dengan yang mau membuat SIM. Kata si A; "it was so easy Oom..." ujarnya sambil terkekeh-kekeh.

Pada saat si A bercerita itu beberapa hari sebelumnya saya baru baca di koran laporan Indonesia Transparency, bahwa lembaga terkorup di 2007 di Indonesia ini masih lembaga kepolisian... (klop kan?)

Jumat, 04 Januari 2008

Masihkah Kita Bangsa yang Ramah?

Berkendara di Jakarta 1 - 2 tahun terakhir ini bak suatu perjuangan hidup dan mati. Begitu keluar dari rumah kita seolah bakal menghadapi sebuah pertempuran, baik fisik apalagi batin. Kalau fisik tidak kuat berjam-jam di kendaraan akibatnya badan pegal. Kalau batin yang tak kuat, kolesterol naik, hipertensi meningkat, jantung berdebar, dlsb.

Kemarin saya menyaksikan seorang supir bus yang sedang ngetem berlari mengejar pengendara sepeda motor dengan rantai di tangan yang siap dihujamkan. Sebelumnya, si pengendara motor menendang body bus sambil memaki sang supir (mungkin karena motornya terserempet). Lalu si supir turun dari bus sambil membawa rantai tadi. Barangkali skestsa peristiwa seperti itu beragam terjadi dalam seharinya di Jakarta. Memang, melihat ulah pengemudi angkutan umum, terutama bus dan angkot, kita hanya bisa mengurut dada. Untuk terhindar dari stress, istri saya sering mengingatkan saya untuk berempati kepada mereka dan mensyukuri kalau kita masih bisa naik mobil yang dingin.

Lalu setelah membandingkan dengan pengalaman berkendara di Auckland, saya berkesimpulan bahwa kebanyakan kita memulai berkendara mobil atau motor dengan belajar secara teknis. Bagaimana maju, mundur, belok, ngerem, dlsb. Lalu kita ikut ujian ambil SIM yang kerap merupakan "sandiwara", karena uang berbicara. Sedangkan di NZ pada umumnya, ujian SIM dilakukan untuk melihat apakah kita sudah dianggap layak untuk berlalu lintas dengan baik dan benar, bukan sekedar aspek teknis maju, mundur dan belok.

Maka, berbekal kebisaan berkendara secara teknis tanpa diajari berlalu lintas yang tertib dan sopan, jadilah setiap hari kita melihat para pengendara yang tidak lagi ramah, egois, adu kuat, pokoknya benar-bnar seperti hukum rimba.

Nah, setujukah anda bahwa bangsa yang ramah, sopan dan toleran tercermin dari bagaimana mereka berkendara?

Rabu, 02 Januari 2008

Tentang 200 Universitas Terbaik Dunia 2007

Salah satu laporan di Majalah Campus Asia vol. 2 number 1, edisi Maret 2008 (hebat ya, edisi Maret 2008 sudah beredar di Januari 2008, penerbitnya Universitas Pelita Harapan -- grup Lippo), adalah tentang 200 universitas unggulan dunia 2007 yang sumbernya diambil dari Times Higher Education Suplement. Penilaiannya berdasarkan berbagai variabel, termasuk rasio pengajar -- mahasiswanya, juga jumlah mahasiswa internasionalnya.

Sebagai orang Asia, saya bangga juga karena di 50 besar ada: University of Tokyo (17), University of Hongkong (18), National University of Singapore (33), Peking University (36), Chinese University of Hongkong (38), Tsinghua University (40), Osaka University (46). Dari Australia ada 6 di 50 besar ini, yaitu: ANU (16), University of Melbourne (27), University of Sydney (31), University of Queensland (33), Monash University (43) dan University of New South Wales (44).

Bagaimana dengan universitas di NZ dalam kancah 200 universitas unggulan dunia ini? Ada University of Auckland (50) -- masih lebih baik dari University of Western Australia (62) -- kemudian ada University of Otago - di kota Dunedin (114) dan University of Canterbury - di kota Christchurch (188). Sedangkan yang paling buncit di posisi 200 adalah RMIT (Australia). Di ASEAN, kita hanya diwakili oleh Singapura, termasuk Nanyang Technological University (69).

Yah, kita harus sabar sambil terus ikhtiar biar suatu hari nanti laporan seperti ini menempatkan Universitas Cendrawasih di posisi 5 dan Universitas Negeri Jember di posisi 2. Amin.

Kurang Nasionalis?

Seorang kenalan berkomentar kenapa saya memberi judul "I Luv New Zealand" pada blog ini, karena menurutnya terdengar kurang nasionalis. Saya jadi teringat waktu memulai pembuatan blog ini, memang harus jujur diakui pemberian judulnya terpengaruh oleh kekaguman saya terhadap NZ. Sebuah negara kecil yang sangat indah alamnya, tetapi juga dikelola secara efektif dan efisien. Harkat manusia dijunjung tinggi bukan sebagai basa-basi. Sesederhana bagaimana mereka menyediakan akses bagi penderita cacat ke tempat-tempat publik. Sebuah negara yang dikelola dengan budaya barat tetapi sangat 'down to earth' dan bukan bergaya glamour nan mewah. Negara yang industri utamanya berbasis pertanian / perkebunan / peternakan, yang merupakan salah satu kekuatan ekonominya sejak dulu.

Mereka tidak harus membuat lompatan jauh dengan memacu teknologi pesawat terbang yang boros anggaran, tapi cukuplah menciptakan teknologi pengolahan minuman anggur agar berkelas dunia. Atau, menjaga sapi dan domba mereka tetap sehat untuk diekspor daging dan bulu (domba) nya. Menciptakan bibit unggul untuk buah kiwi, apel dan lainnya. Menggratiskan pendidikan di sekolah negeri hingga SMA. Dll, dll. Last but not least, membiarkan rakyatnya tetap kritis kepada pemerintah karena mereka adalah pembayar pajak yang ta'at dan sulit mencari petugas pajak yang nakal. Nah, bukankah semua itu juga adalah dambaan kita di Indonesia? (pssst, buat ibu2 yang kecewa dengan praktek poligami, di NZ secara hukum melarang poligami, lho).

Saya cuma bisa menjawab "tudingan" teman saya di atas dengan memintanya untuk membaca 'sub title' blog ini, yaitu: "Barbagi Cerita untuk Manfaat Bersama". Semoga teman ku ini paham bahwa kita tidak usah malu untuk meniru hal-hal yang baik dari negri orang.

Sabtu, 22 Desember 2007

Sesama Rawan Gempa

Belum lama di kota Gisborne yang menghadap Samudra Pasifik (19 Desember 2007) terjadi gempa dengan kekuatan 6,8 skala Richter. Korban jiwa sejauh ini baru 1 orang akibat serangan jantung. Pusat kota Gisborne cukup parah, termasuk infrastruktur seperti sarana listrik. NZ dan Indonesia termasuk wilayah rawan gempa. Konon dalam setahun di NZ terjadi lebih dari 10 ribu getaran tektonik, tetapi yang dirasakan manusia sekitar 100 kali saja, itupun mayoritas tidak memberi efek yang merusak karena begitu kecilnya.

Ancaman tsunami bukannya tidak ada, bahkan kalau gempa terjadi di wilayah pantai benua Amerika, efeknya bisa sampai ke NZ berupa gelombang tsunami (ini seperti tsunami Aceh di 2004 yang efeknya sampai ke Somalia di Afrika). Untuk itu alat pendeteksi tsunami disebar di laut sekitar NZ.

Inilah nasib sesama negara kepulauan yang rawan gempa.

Selasa, 11 Desember 2007

Indonesia Lebih OK Soal CO2?

Membaca Kompas pagi ini saya terkejut, ternyata produksi CO2 alias karbondioksida (bahan penyumbang efek rumah kaca) NZ adalah 9 lebih ton per kapita, jauh di atas Indonesia yg cuma 1,4 ton per kapita. Berita ini seiring dg berlangsungnya konfrensi Perubahan Iklim PBB, Desember 2007 di Nusa Dua, Bali.

Benar, Jakarta spt Mexico City dan Bangkok setidaknya masuk 10 kota terpolusi di dunia, tapi ternyata secara keseluruhan Indonesia masih rendah dalam memproduksi CO2 per kapitanya. Meskipun secara total Indonesia jauh di atas NZ dalam memproduksi CO2, yaitu 220 juta jiwa dikalikan 1,4 juta ton sama dengan 302 juta ton CO2 / tahun, sedangkan NZ memproduksi 4 juta jiwa dikalikan 9 juta ton sama dengan 36 juta ton CO2 / tahun.

Buat kita, di manapun, ayo turunkan CO2 dengan berbagai cara, supaya anak cucu kita terselamatkan.

Minggu, 09 Desember 2007

Anak Bekerja Jangan Dilarang?

Di harian Kompas hari ini, ada berita tentang upaya penyelamatan pekerja anak-anak yang dianggap masih dibawah umur. Setelah saya baca sampai habis, ternyata anak2 itu berusia 15an tahun yang tugasnya membersihkan rumah sarang burung walet, dianggap bekerja dibawah tekanan/paksaan. Lucunya, anak2 itu merasa tidak merasa ditekan atau dipaksa. Tetapi pihak aparat berkeras hendak "membebaskan" mereka dari tempat kerjanya.

Di NZ, anak tidak dilarang kerja hanya saja harus sesuai aturan (terutama porsi jam kerja yang dibatasi). Anak-anak kecil di bawah 15 tahun boleh mulai kerja sebagai loper koran atau selebaran2 promosi yang dimasukkan ke kotak pos yang ada di rumah2 (semua rumah punya kotak pos). Bayarannya tidak besar, sebulan paling2 mendapatkan $50 s/d $75. Lumayan buat uang saku mereka.

Usia 15 thn mereka sudah boleh kerja lebih intens, biarpun dalam seminggu dibatasi jumlah jam kerjanya supaya tidak mengganggu pelajaran. Sering kita jumpai anak2 remaja ini bekerja di supermarket, restoran, toko-toko dan masih banyak lagi. Motivasinya macam2, ada yang ingin membeli sesuatu sehingga perlu uang tambahan, ada yang ingin supaya uang sakunya ada extra lebih, dst. Para pelajar 'overseas' pun boleh bekerja dengan maksimal jam kerja tertentu dalam seminggu, lumayan kan bisa nambahin uang saku kiriman ortu dari tanah air.

Ada kenalan orang Indonesia pernah cerita, ketika masih mengoperasikan sebuah coffee shop ada anak remaja melamar kerja di coffee shop nya padahal ortunya orang kaya. Si Ortu bilang kepada kenalan ini, bahwa ia sengaja suruh si anak kerja biar tau susahnya cari uang.

Nah, jadi dalam skala dan takaran tertentu, anak bekerja bisa ada manfaatnya, terutama untuk pembelajaran lewat pengalaman. Daripada kluyuran di Mall nggak jelas?